Monday, September 6, 2010

AL MURJIAH

0 comments

ALIRAN TEOLOGI ISLAM
“ MURJI’AH “
OLEH : SAWIYANTO
Nim. 08 PEDI 1290

A.    Pendahuluan
Didalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, terdapat berbagai macam aliran pemikiran kalam. Munculnya berbagai aliran ini bertolak dari peristiwa pertentangan politik antara Ali bin Abi Talib di Kufah dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan di Damaskus yang kemudian berpuncak pada peristiwa tahkim (arbitrase). Tahkim yang dianggap berat sebelah menyebabkan timbulnya aliran kalam Khawarij. Orang-orang yang menerima tahkim, baik yang datang dari pihak Ali bin Abi Talib maupun dari pihak Mu’awiyah bin Abu Sufyan oleh kaum Khawarij dihukumi sebagai pembuat dosa besar, sebab mereka tidak membuat keputusan berdasarkan hukum Allah.[1]
Oleh sebab itu, pembuat dosa besar tersebut telah keluar dari Islam dan telah menjadi kafir dan zalim. Sebaliknya mereka yang tidak mau menerima tahkim, masih termasuk golongan orang mukmin. Dampak yang ditimbulkan dari penyebutan kafir dan mukmin adalah haram dan halalnya darah mereka. Orang yang masih mukmin tidak boleh dibunuh atau diperangi, sedangkan orang yang sudah keluar dari golongan mukmin dan masuk ke dalam golongan kafir, wajib dibunuh atau diperangi. Paham yang ditampilkan oleh kaum Khawarij ini mengundang para pemikir muslim untuk mencari jawaban atas permasalahan yang dimunculkan. Siapa sebenarnya yang masih berhak disebut sebagai orang mukmin dan siapa pula orang yang boleh disebut sebagai orang kafir. Sebagai antitesa dari tesa yang ditimbulkan oleh kaum Khawarij timbul aliran Murji’ah.[2]
Murji’ah salah satu aliran teologi Islam yang muncul pada abad pertama Hijriah. Pendirinya tidak diketahui dengan pasti, tetapi Syahrastani[3] menyebutkan dalam bukunya al-Milal wa an-Nihal (buku tentang perbandingan agama serta sekte-sekte keagamaan dan filsafat ) bahwa orang pertama yang membawa paham Murji’ah adalah Gailan ad-Dimasqi.
Adapun Gailan ad-Dimasqi adalah putra seorang pegawai pada masa Khalifah Usman bin Affan. Ia dihukum mati oleh Khalifah Hisyam bin Abdul Malik karena menganut paham Kadariah.[4]
B.     Aliran Murji’ah
Kata Murji’ah [dari kata irja’] mempunyai dua pengertian. Pertama, berarti penangguhan sebagaimana tercantum dalam firman Allah, “Pemuka-pemuka itu menjawab, ‘Beri tangguhlah dia dan saudaranya’.” (Q.S. Al-A’raf 111). Kedua, berarti memberi harapan. Apabila kata murji’ah dipergunakan untuk menyebut suatu kelompok Muslim, maka pengertian pertama yang lebih tepat, karena mereka menangguhkan perbuatan dari niat dan balasan. Pengertian kedua menjelaskan dalam ucapan sebagian orang bahwa iman tidak terganggu karena berbuat maksiat dan demikian pula ketaatan tidak terpengaruh karena kekafiran. Sebagian orang mengatakan bahwa irja’ berarti penangguhan hukuman kepada orang yang berbuat dosa besar sampai hari kiamat. Perbuatannya tidak mempengaruhi posisinya di dunia apakah ia termasuk penghuni surga atau penghuni neraka.[5]
Berdasarkan pengertian diatas golongan Al-Murji’ah adalah lawan dari kelompok Al-Wa’idiyah.[6]
C.     Latar Belakang Munculnya Murji’ah.
Munculnya aliran ini (Murji’ah) dilatar belakangi oleh persoalan politik, yaitu soal khilafah (kekhalifahan). Setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, umat Islam terpecah kedalam dua kelompok besar, yaitu kelompok Ali dan Mu’awiyah. Kelompok Ali lalu terpecah pula ke dalam dua golongan, yaitu golongan yang setia membela Ali (disebut Syiah) dan golongan yang keluar dari barisan Ali (disebut Khawarij). Ketika berhasil mengungguli dua kelompok lainnya, yaitu Syiah dan Khawarij, dalam merebut kekuasaan, kelompok Mu’awiyah lalu membentuk Dinasti Umaiyyah. Syiah dan Khawarij bersama-sama menentang kekuasaannya. Syiah menentang Mu’awiyah karena menuduh Mu’awiyah merebut kekuasaan yang seharusnya milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij tidak mendukung Mu’awiyah karena ia dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Dalam pertikaian antara ketiga golongan tersebut terjadi saling mengafirkan. Ditengah-tengah suasana pertikaian ini muncul sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam pertentangan politik yang terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang menjadi golongan Murji’ah.[7]
D.    Tokoh-Tokoh Murji’ah dan Ajaranya
Dalam perjalanan sejarahnya Golongan Al-Murji’ah terbagi menjadi empat kelompok besar, yaitu Murji’ah Al-Khawarij, Murji’ah Al-Qadariyyah, Murji’ah Jabariyyah dan Murji’ah Murni.
Kelompok Murji’ah Murni yaitu :
1.      Al Yunusiyyah.
Al-Yunusiyyah adalah kelompok yang mengikuti ajaran Yunus ibn Aun an-Numairi. Menurut Yunus, iman adalah pengenalan kepada Allah dengan menaati-Nya, meninggalkan keinginan dan rencana [pribadi] serta menyerahkan segala-galanya kepada Allah dan mencintai Allah dengan sepenuh hati. Barangsiapa yang pada dirinya terhimpun semua hal yang disebutkan diatas maka dia dikatakan sebagai orang yang beriman. Perbuatan taat selain yang disebutkan di atas tidak termasuk iman. Karena kalau ditinggalkan tidak merusak iman dan juga tidak disiksa karena meninggalkannya selama imannya kuat dan mantap.
Menurutnya iblis termasuk makhluk arif billah, namun ia dikatakan kafir karena ketakaburannya kepada Allah. Allah berfirman :
4n1r& uŽy9õ3tFó$#ur tb%x.ur z`ÏB šúïÍÏÿ»s3ø9$#  
“ ... (ia enggan) tak hendak sujud (dan menyombongkan diri) dengan menyatakan bahwa ia lebih mulia dari pada Adam (dan iblis termasuk golongan yang kafir) dalam ilmu Allah SWT.”[8]
“Barangsiapa mampu menanamkan rasa kepatuhan hanya kepada Allah semata dan mencintai Allah dengan sepenuh hati,” demikian kata Yunus, ”sekalipun ia berbuat maksiat, tidaklah hal itu mengurangi nilai iman dan keikhlasannya kepada Allah. Karena orang yang beriman masuk ke dalam surga bukan disebabkan karena ketaatan (ibadah)nya, melainkan karena keikhlasan dan kecintaannya kepada Allah.”[9]
2.      Al-Ubaidiyyah.
Kelompok Ubaidiyyah adalah mereka yang mengikut ajaran Ubaid al-Mukta’ib. Dia disebutkan pernah berkata bahwa selain perbuatan syirik akan diampuni Allah. Seorang yang meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki ketauhidan (ahl at-tauhid) tidak akan binasa oleh kejahatan dan dosa besar yang diperbuatnya. Al Yaman meriwayatkan dari Ubaid al-Mukta’ib dan pengikut-pengikutnya bahwa ilmu Allah bukan [terbatas] kitab Allah dan sekiranya Allah tidak bersifat, tentu, agama Allah bukan dari Allah. Dia berpendapat bahwa Allah berwujud seperti bentuk manusia. Pendapat ini dilontarkannya setelah memahami hadits yang berbunyi,
„Sesunguhnya Allah telah menciptakan Adam dalam bentuk Yang Maha Pengasih“.[10]
3.      Al-Ghassaniyyah.
Kelompok Al-Ghassaniyyah adalah mereka yang mengikut ajaran Ghassan al-Kafi. Menurut Ghassan, iman adalah pengetahuan (makrifat) kepada Allah dan Rasul, mengakui dengan lisan akan kebenaran yang diturunkan oleh Allah, namun secara global, tidak perlu secara rinci. Iman, menurutnya, bersifat statis: tidak bertambah dan tidak berkurang. Apabila ada seseorang berkata: “Aku telah mengetahui bahwa Allah mengharamkan memakan daging babi namun aku belum tahu babi mana yang diharamkan, apakah juga termasuk kambing“ maka dia masih dianggap beriman. Jika seseorang berkata, “Aku tahu bahwa Allah mewajibkan menunaikan ibadah haji ke Ka’bah, namun aku belum tahu tempat Ka’bah itu, mungkin di India“ maka orang tersebut masih juga dianggap beriman. Karena apa yang dia katakan, sekalipun termasuk ajaran agama, tidak termasuk dalam bagian iman dan dia pun tidak terkesan ragu atas ucapannya.[11]
4.      Ats-Tsaubaniyyah.
Ats-Tsaubaniyyah adalah kelompok yang mengikut ajaran Abu Tsauban al-Murji’i yang berpendapat bahwa iman adalah pengenalan dan pengakuan lidah kepada Allah, Rasul dan kepada semua perbuatan yang menurut akal tidak boleh dikerjakan dan perbuatan yang menurut akal boleh dikerjakan tidak  termasuk iman. Iman lebih dahulu dari pada amal.[12]
Diriwayatkan dari Muqatil ibn Sulaiman kemaksiatan tidak mempengaruhi iman dan tauhid, orang beriman tidak dimasukkan ke dalam neraka. Kendatipun banyak riwayat yang shahih menerangkan sebalik pendapat itu. Orang yang beriman yang berbuat maksiat akan disiksa pada hari kiamat diatas shirat yang terbentang di atas neraka mereka mencium bau neraka. Mereka merasakan panas dari nyala api neraka, semua siksa yang diterima sesuai dengan berat ringannya dosa, kemudian dimasukkan ke dalam surga dan demikian juga orang yang sementara masuk neraka akan dimasukkan juga kedalam surga.[13]
5.      At-Taumaniyyah.
At-Tauminiyyah adalah nama kelompok yang mengikuti ajaran Abu Muaz At-Taumini yang mengatakan iman adalah terpelihara dari kekufuran, iman nama dari perbuatan yang apabila ditinggalkan akan menjadi kafir, demikian juga kalau satu perbuatan saja ditinggalkan menjadi kafir. Karena itu tidak boleh beriman kepada sebagian dan kafir pada sebagian. Setiap kejahatan, baik yang termasuk dosa besar mapun dosa kecil, kaum muslimin tidak sepakat apakah pelakunya dikatakan kafir atau fasik, namun mereka sepakat pelaku dapat dikatakan fasik dan maksiat. Katanya: unsur-unsur iman yang dimaksud adalah makrifah tashdiq, mahabbah, ikhlas dan mengakui melalui lisan terhadap apa yang disampaikan Rasul. Katanya: setiap orang yang meninggalkan shalat dan puasa langsung dikatakan kafir tetapi kalau dia meninggalkan puasa dan shalat dengan niat mengqadha tidak dikatakan kafir. Siapa yang membunuh nabi atau memukulnya ia termasuk kafir, kafir bukan karena membunuh atau karena memukul tetapi karena menghina, memusuhi dan membenci mereka.[14]
6.      Ash-Shalihiyyah.
Ash-Shalihiyyah adalah kelompok yang mengikuti ajaran Shalih Ibn Umar ash-Shalihi. Ash-Shalihi, Muhammad ibn Syu’aib, Abu Syamar dan Ghailan, semuanya adalah pengikut Qadariyyah dan Murji’ah. Menurut ash-Shalihi, iman adalah semata-mata pengenalan kepada Allah dan mengakui Allah sebagai pencipta alam semesta. Sedangkan kekafiran adalah ketidaktahuan (jahil) terhadap Allah. Orang yang mengaatakan bahwa Tuhan itu tiga, menurutnya, bukanlah kafir tetapi ucapan itu tidak akan keluar kecuali dari orang yang kafir. Dan menurutnya makrifah kepada Allah itu adalah mahabbah dan khudhu (tunduk) kepada Allah. Iman tumbuh dari pemberitaan Rasul dan menurut ukuran akal mungkin wajib beriman kepada Allah dan mungkin tidak beriman kepada Rasul namun Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang tidak beriman kepadaku maka ia tidak beriman kepada Allah“.
Menurutnya shalat bukan ibadah, kecuali dari orang yang beriman kepada-Nya, karena ia telah mengenal-Nya. Dan iman menurutnya hanya terdiri dari satu unsur yang tidak bertambah dan tidak berkurang, demikian juga kafir tidak bertambah dan tidak berkurang.[15]
E.     Ajaran Dasar Murji’ah
Ada dua ajaran penting bagi Murji’ah, yaitu tentang pelaku dosa besar dan tentang iman.
1.      Tentang pelaku dosa besar.
Mengenai pelaku dosa besar, ditegaskan bahwa selama seseorang meyakini tiada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad SAW adalah rasul-Nya, maka ia tetap dianggap mukmin, bukan kafir, karena amal tidak sampai merusak iman. Kalaupun ia tidak diampuni Allah SWT dan dimasukkan ke dalam neraka, ia tidak kekal didalamnya seperti orang kafir.
2.      Tentang iman.
Iman menurut Murji’ah adalah keyakinan dalam hati bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad SAW adalah rasul-Nya.[16]
F.      Implikasi Murji’ah Kepada Masyarakat Islam
Perpecahan kaum Muslimin menjadi kelompok-kelompok yang mengusung beragam pemikiran, sungguh merupakan kenyataan yang tidak bisa dimungkiri. Perpecahan ini tidak lain, karena kaum Muslimin jauh dari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jauh dari pemahaman para sahabatnya dalam beragama. Mengenai perpecahan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mensinyalir dalam sebuah hadits yang artinya: “Sesungguhnya, barangsiapa di antara kalian yang hidup, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Dan berhati-hatilah kalian dari perkara yang baru, karena ia adalah kesesatan. Barang siapa di antara kalian yang mendapatinya, maka wajib berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khulafa-ur rasyidin al-mahdiyin; gigitlah ia dengan gigi gerahammu” [HR At-Tirmidzi]
Perjalanan sejarah telah membuktikan kebenaran wasiat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Awal perselisihan atau perpecahan ini muncul pada akhir kekhilafahan Khulafa-ur-Rasyidin.
G.    Penutup.
Demikianlah pembahasan aliran-aliran awal dalam pemikiran ilmu kalam pada aliran Murji’ah. Sebenarnya, aliran ini pada awal kemunculannya lebih bercorak aliran politis. Namun, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan pemikirannya, aliran ini menjadi aliran teologis. Atau boleh dikatakan, bahwa aliran ini merupakan aliran politis sekaligus aliran teologis.
Faham aliran Murji’ah bisa diketahui dari makna yang terkandung dalam “Murji’ah” dan dalam sikap netralnya. Pandangan “netral” tersebut, nampak pada penamaan aliran ini yang berasal dari kata “arja’a”, yang berarti “orang yang menangguhkan”, mengakhirkan dan “memberi pengharapan”. Menangguhkan berarti “menunda soal siksaan seseorang ditangan Tuhan, yakni jika Tuhan mau memaafkan, dia akan langsung masuk surga. Jika sebaliknya, maka akan disiksa sesuai dengan dosanya.
Istilah “memberi harapan” mengandung arti bahwa, orang yang melakukan maksiat padahal ia seorang mukmin, imannya masih tetap sempurna. Sebab, perbuatan maksiat tidak mendatangkan pengaruh buruk terhadap keimanannya, sebagaimana halnya perbuatan taat atau baik yang dilakukan oleh orang kafir, tidak akan mendatangkan faedah terhadap kekufurannya. Mereka “berharap” bahwa seorang mukmin yang melakukan maksiat, ia masih dikatakan mukmin.
Berdasarkan itu, maka inti faham Murji’ah adalah sebagai berikut:
Iman ialah mengenal Allah dan Rasulnya, barangsiapa yang tidak mengenal bahwa “tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasul-Nya”, ia mukmin sekalipun melakukan dosa.
Amal perbuatan bukan merupakan bagian dari iman, sebab iman adanya dalam hati. Sekalipun melakukan dosa besar, tidaklah akan menghapus iman seseorang, tetapi terserah Allah untuk menentukan hukumnya.
Aliran Murji’ah muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya “kafir mengkafirkan” terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana yang dilakukan oleh aliran Khawarij. Apa yang ada dalam pemikiran golongan ini adalah bahwa perbuatan bukan merupakan bagian dari iman, sebab iman adanya dalam hati. Sekalipun melakukan dosa besar, tidaklah akan menghapus iman seseorang, tetapi terserah Allah untuk menentukan hukumnya.


DAFTAR PUSTAKA


Al Hafni, Abdul Mun’im, Ensiklopedia, Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai dan Gerakan Islam, Jakarta: Soegeng Sarjadi Syndicate, Grafindo Khazanah Ilmu, 2006.

Al-Mahalli, Imam Jalaluddin dan As-Suyuthi, Imam Jalaluddin, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbaabun Nuzuul Jilid 1, Penerjemah Bahrun Abubakar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996.

Azra, Azyumardi, Ensiklopedi Islam 4, Cet. 10, Jakarta : PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 2002.

Azra, Azyumardi, Ensiklopedi Islam 2, Cet 11 (Jakarta : PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 2003 ) h. 338.

_______ Ensiklopedi Islam 3, Cet. 11, Jakarta : PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 2003.

Kiswati, Tsuroya, Al Juwani, Peletak Dasar Teologi Rasional Dalam Islam, Jakarta, Erlangga, 2005.

Muhammad bin Abdul Karim, Asy-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal (Buku I), terjemahan oleh Asy Wadie Syukur, LC, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2006.




[1] Tsuroya Kiswati, Al Juwani, Peletak Dasar Teologi Rasional Dalam Islam (Jakarta, Erlangga, 2005), h. 8.
[2] Tsuroya Kiswati, op.cit., h. 8.
[3] Asy-Syahrastani, Muhammad Abdul Karim ( Syaristan, Khurasan, Iran 469 H/1076 M-Khurasan, 548 H/153 M) Syahrastani seorang ahli perbandingan agama dan sekte-sekte keagamaan pada abad ke 12. Terkenal dengan nama Syahristani, dinisbahkan kepada kota tempat kelahirannya, Syaristan. Ia mempelajari ilmu fikih dan ilmu kalam beberapa lama di Jurjaniya dan Nisabur. Gurunya dibidang ilmu kalam ialah Abu al-Qasim al-Ansari.Ibnu Kallikan menyatakan bahwa Syahristani termasuk pengikut Mazhab Asy’ariyah. Namun San’ani (seorang ahli ilmu kalam) menyatakan bahwa ia seorang yang berafiliasi pada Mazhab Syiah Ismailiah (Syiah). Semasa hidupnya ia pernah mengadakan perjalanan ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan kemudian kembali ke tanah kelahirannya setelah terlebih dahulu menetap selama 3 tahun di Baghdad, yang ketika itu merupakan pusat ilmu dan kebudayaan, untuk memperluas cakrawala ilmu pengetahuannya. Seusai menuntut ilmu di Baghdad, ia kemudian menetap di Khurasan sampai ia wafat. Beberapa karya tulis Syahristani, antara lain : Kitab al-Milal wa an-Nihal, Kitab Nihayat al Iqdam fi Ilm al-Kalam, Musana’at al-Falasifah, Tarikh al-Huqama. Info berasal dari, Azyumardi Azra, Ensiklopedi Islam 4, Cet. 10, (Jakarta : PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 2002 ) h. 336.

[4] Azyumardi Azra, Ensiklopedi Islam 2, Cet 11 (Jakarta : PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 2003 ) h. 338.
[5] Asy-Syahrastani, Muhammad bin Abdul Karim, al-Milal wa an-Nihal (Buku I), terjemahan oleh Asy Wadie Syukur, LC (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2006), h. 174.
[6] Wahidiyah adalah sekelompok orang yang menggunakan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang wa’id (ancaman Allah SWT) sebagai dalil bagi pendapat mereka, seperti yang dilakukan oleh kelompok Mu’tazilah dan Khawarij. Mereka berkata, “Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa besar tidak dianggap sebagai orang mukmin, tetapi ia kafir dan fasik. Jika ia meninggal dunia sebelum bertaubat dari dosa besar yang dikerjakannya, maka ia meninggal bukan sebagai muslim. Oleh karena itu, ia akan kekal di dalam neraka.”. Abdul Mun’im Al Hafni, Ensiklopedia, Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai dan Gerakan Islam (Jakarta: Soegeng Sarjadi Syndicate, Grafindo Khazanah Ilmu, 2006), h. 969-970
[7] Azyumardi Azra, Ensiklopedi Islam 3, Cet 11, op. cit., h. 301-302
[8] Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbaabun Nuzuul Jilid 1, Penerjemah Bahrun Abubakar,(Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996), h. 20.
[9] Asy-Syahrastani, op. cit., h. 175.
[10] Asy-Syahrastani, op. cit., h. 175
[11] Asy-Syahrastani, op. Cit., h. 176.
[12] Ibid, h. 177.
[13] Asy-Syahrastani, op. Cit., 178.
[14] Asy-Syahrastani, op. Cit., 178.
[15] Asy-Syahrastani, op. Cit., h. 179.
[16] Azyumardi Azra, Ensiklopedi Islam 3, Cet. 11, (Jakarta : PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 2003 ) h. 302.

0 comments: