Thursday, April 14, 2011

DINASTI FATHIMIYAH DI MESIR
Syi’ah bertoleransi dengan Sunni dan Non Muslim
Oleh : Sawiyanto, S.PDI


A. PENDAHULUAN
Pada masa dinasti Abbasiyah terjadi disintegrasi yang kursial, terutama setelah para khafilah menjadi boneka di dalam tangan tentara pengawal. Konsekuensinya, daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan di Baghdad., melepaskan diri dari kekuasaan khalifah, sehingga pada gilirannya muncullah dinasti-dinasti kecil yang berdiri sendiri.
Di Maroko, Idris ibn Abdullah, dapat membentuk kerajaan Idrisi yang bertahan dari tahun 788 M sampai dengan tahun 974 M. Di Tunis muncul pula dinasti Aghlabi yang didirikan oleh Ibrahim ibn Aghlab. Sedangkan di Mesir Ahmad ibn Thulun melepaskan diri dari Baghdad dan mendirikan dinasti Thuluniyah. Dalam menjalankan pemerintahannya, Ahmad ibn Thulun telah berhasil mengukir prestasi yang mengagumkan. Wilayah ekspansinya bertambah luas hingga mencapai Suriah, perekonomiannya meningkat. Irigasi, rumah sakit dan masjid dibangun dengan megah. Semua prestasinya ini telah membawa Mesir salah satu sentral kebudayaan Islam yang termasyhur. Pada tahun 935 M Mesir jatuh ke tangan dinasti Ikhsyid, dan pada tahun 969 M dinasti ini berhasil ditaklukkan oleh khilafah Fathimiyah.
Eksisinya khilafah Fathimiyah secara nominal berbeda dengan dinasti-dinasti kecil yang muncul pada waktu itu. Perbedaannya terletak pada keloyalitasannya. Kalau dinasti-dinasti kecil itu masih mengakui khalifah-khalifah di Baghdad sebagai pemimpin mereka, sedangkan khilafah Fathimiyah yang beraliran Syi’ah ini merupakan saingan sekaligus tandingan bagi khilafah aliran Sunni di Baghdad. Dalam menggulirkan pemerintahannya, agaknya khilafah Fathimiyah mengalami dua fase penting yaitu fase kemajuan dan fase kemunduran yang berujung pada kehancuran.
Untuk itulah, maka fokus pembahasan dalam makalah ini meliputi: pembentukkan khilafah Fathimiyah di Mesir, kemajuan dan kemunduran khilafah Fathimiyah.
B. PEMBENTUKAN DAN KEMAJUAN KHILAFAH FATHIMIYAH DI MESIR
Dalam perjalanan sejarah Syi’ah, perbedaan muncul atas masalah suksesi Imam. Setelah meninggalnya Imam Ja’far Sadiq, aliran Syi’ah ini terpecah ke dalam dua kelompok yaitu kelompok Syi’ah Itsna Asy’ariyah dan Syi’ah Isma’illiyah.
Kelompok Syi’ah Ismailliyah berpendapat bahwa Isma’il bin Ja’far Sadiqlah yang berhak dan berperan sebagai Imam yang ketujuh untuk menggantikan kedudukan ayah mereka, bukan Musa al-Kazim. Adanya faham yang melegitimasi kepemimpinan Isma’il ini, ternyata mampu melahirkan suatu gerakan politik keagamaan yang teroganisir. Gerakan ini pada ujungnya termanifestasi dalam suatu pembentukkan pemerintahan Syi’ah Fathimiyah yang ekslusif.
Gerakan Syi’ah Fathimiyah dalam melancarkan dakwahnya telah mengaplikasikan doktrin messianik atau menes dan sentralitas organisasi penopangnya. Walaupun Syi’ah Fathimiyah menganggap bahwa Isma’il tidak berperan secara independen, disebabkan kematiannya terlebih dahulu dari ayahnya, Imam Ja’far Sadiq, namun hal ini tidak menghalangi tumbuh dan berkembangnya para pendukung keturunan Isma’il.
Secara aktif dakwah yang dilancarkan Syi’ah Fathimiyah dalam menyebarkan doktrinnya di mulai oleh Abu Ubaidillah al-Husain. Doktrin yang dipopulerkannya adalah berhaknya Ubaidillah atas posisi “penyelamat” (al-Mahdi). Sasaran penyebaran doktrin ini meliputi: Yaman, bahrain, Sind, India, Mesir dan Afrika Utara. Penyebaran doktrin yang dilakukan oleh para Da’I ini ternyata sangat efektif, karena pemanfaatan sistem fan jaringan para Da’i terorganisir dengan rapi.
Pada tahun 228 sesudah hijriah, Abu Abdullah melancarkan dakwahnya ke daerah Afrika. Sifatnya yang baik dan keramah tamahnya, mengundang rasa simpatik masyarakat yang dikunjunginya, sehingga hal ini melicinkan jalan bagi misi dakwahnya dan sekaligus memperoleh dukungan yang luas, terutama di daerah-daerah yang kurang mendapat perhatian dinasti Abbasyiah.
Melalui para Da’i seperti Ali ibn Fadhil al-Yamani dan ibn llawsyab al-Kuli, Yaman beserta ibu kotanya dapat direbut. Dengan dikuasainya Yaman, maka kemampuan dakwah Fathimiyah semakin tangguh. Ini terbukti dengan dikirimnya para Da’i ke berbagai penjuru dunia, seperti ke Arabia, India dan Afrika Utara.
Di Afrika Utara, Sa’id ibn Husain telah berhasil menaklukkanibu kota dinasti Aghlabiyah (Tunis) pada tahun 909 M dan secara otomatis tamatlah riwayat dinasti Aghlabiyah. Selanjutnya Sa’id memproklamirkan Imam Ubaidillah al-Mahdi sebagai khilafah Fathimiyah pertama di Afrika Utara. Proklamasi ini menandai fase pembukaan dari upaya pengikut Isma’illiyahuntuk member bentuk nyata bagi visi mereka tentang masyarakat Islam.
Pada masa pemerintahan Ubaidillah al-Mahdi, wilayah kekuasaannya sudah semakin luas yang meliputi Maroko, Mesir, Malta, Alexandria, Sardania,Corsica dan Balerick. Estafet kepemimpinan setelah al-Mahdi dilanjutkan oleh anaknya, al-Qa’im dalam mengendalikan pemerintahannya mengikuti policy yang pernah di terapkan oleh ayahnya. Sedangkan anak al-Qaim yaitu al-Mansur adalah seorang pemuda yang energik. Ini terbukti dengan keberhasilannya dalam menumpas pemberontakan Abu Yazid.
Setelah meninggalnya Al-Mansur, tampuk pemerintahan diteruskan oleh anaknya Mu’iz. Langkah pertama yang dilakukannya adalah menciptakan kestabilan dan perdamaian. Kemudian ia membenahi struktur pemerintahannya, dengan cara meningkatkan kualitas para gubernur dan pada pemimpin. Untuk itu ia memberikan hadiah kepada para gubernur dan para pemimpin yang berprestasi dan mempunyai loyalitas yang tinggi.
Pada tahun 969 M, al-Mu-iz mengutus jendralnya, Jauhar, bersama dengan prajurit yang terlatih untuk menghadang ekspansi ke Mesir. Tanpa perlawanan yang berarti, akhirnya mesir dan ibu kotanya, Fustat dapat dikuasai. Dengan dikuasainya mesir, maka berakhirlah masa pemerintahan Dinasti Ikhsyid disana. Tidak berapa lama berselang, Jauhar berhasil membangun sebuah kota baru yang disebut Qohirah. Kota al-Qohirah inilah yang menjadi ibu kota khilafah Fatimiyah di Mesir pada tahun 973. Sejak saat ini terbentuklah khifalah Fatimiyah di Mesir dan sekaligus menandai dimulainya pelaksanaan aktivitas pemerintahan ini.
Masa kegemilangan khilafah Fathimiyah di tandai dengan berpindahnya pusat pemerintahan ke kairo pada tahun 1973. Dengan berpindahnya ibu kota tersebut telah menawarkan prospek baru bagi kemajuan khilafah ini. Indikasi-indikasi kemajuan yang terjadi masa khilfah Fathimiyah di Mesir dapat diamati dalam beberapa bidang antara lain: bidang politik, ilmu pengetahuan, ekonomi, administrasi, militer, seni dan arsitektur.
1. Politik
Kemajuan khilafah Fathimiyah di bidang politik antara lain terlihat dari ekspansi wilayah yang dilakukannya. Pada masa khilafah ini ekspansi ayau perluasan wilayahnya telah meliputi seluruh Syiria, sebagian Mesopotamia, perbatasan sungai Efrat, Hijaz, Yaman, dan Aleppo.
Untuk memperkokoh kedudukan pemerintahannya, khilafah Fathimiyah menjalin hubungan yang baik dengan Byzantium dan juga dengan mengirimkan para Dainya ke beberapa daerah antara lain seperti daerah Sind dan Yaman. Upaya menjalin hubungan baik antara bangsa dengan pengiriman Da’i tersebut sangat esensial sekali untuk menjaga intergitaas wilayah, menciptakan suasana perdamaian dan sekaligus akan membawa kemajuan khilafah ini.
2. Ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan sangat penting dalam kehidupan manusia. Sebab tanpa ilmu pengetahuan manusia tidak akan mampu mengolah alam ciptaan Allah SWT secara baik dan bahkan akan menjadi umat yang tertinggal dan terbelakang.
Pada masa kekhilafahan Fathimiyah, antusias masyarakat maupun pemerintahan terhadap ilmu pengetahuan cukup tinggi. Ini terbukti dengan diberikannya bea siswa bagi orang-orang yang menuntut ilmu pengetahuan oleh khilafah dan dibangunnya pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan seperti: Dar al-Hikmah atau Dar al-llm, dan universitas al-Azhar. Di universitas ini diajarkan berbagai ilmu pengetahuan antara lain: ilmu optic, kedokteran, fiqih, tauhid, nahwu, bahasa Arab, bayan, mantiq, matematika, dan lain-lain.
Di samping itu para khalifah juga membangun gedung-gedung perpustakaan yang lengkap sehingga dengan di bangunnya sarana-sarana untuk menuntut ilmu pengetahuan dan adanya semangat yang tingi untuk mengkaji ilmu pengetahuan tersebut, maka bermunculanlah fakar-fakar dalam berbagai disiplin ilmu.
Fakar-fakar dalam bidang ilmu pengetahuan yang muncul pada masa khilafah Fathimiyah di Mesir antara lain, seperti al-Kindi, Ali al-Hasan ibn Haitham, Qais dan Ali ibn Yunus. Dengan munculnya para pakar tersebut sangat diperlukan bagi khilafah Fathimiyah dalam mencapai kemajuan dan kemakmurannya.
3. Ekonomi
Perekonomian merupakan salah satu unsure yang sangat penting dalam memperlancar proses pembangunan suatu Negara, yang berujung kepada kemajuan dan kemakmurannya. Sebab merosotnya perekonomian suatu Negara akan dapat menghambat lajunya proses pembangunan yang akan dilaksanakan.
Pada masa pemerintahan Fathimiyah di Mesir menunjukkan adanya kemajuan dalam bidang perekonomian, bahakn kemajuan dan kemakmuran di bidang tersebut, menurut C.E Bostworth melebihi Irak kontemporer.
Indikasi-indikasi kemajuan dalam bidang ekonomi pada masa khilafah Fatimiah antara lain : masjid-masjid, universutas-universitas, rumah sakit-rumah sakit, dan penginapan-penginapan dibangun dengan megah, jalan-jalan utama dilengkapi dengan lampu-lampu yang gemerlapan. Dalam bidang perindustrian pada masa ini juga telah mencapai kemajuan terutama sekali yang berhubungan dengan kemiliteran seperti : alat-alat perang, kapal dan sebagainya.
4. Administrasi dan Militer
Secara umum pelaksanaan administrasi khilafah Fatimiah merujuk kepada administrasi yang dikembangkan dinasti Abbasiyah. Meskipun dalam beberapa departemen terdapat perbedaan nama. Kementrian Negara pada khilafah ini dibagi kedua kelas yaitu kelas men of the sword dan kelas men of the pen. Kelas men of the sword terdiri dari pengawas militer, departemen pertahanan dan keamanan dan pejabat tinggi lainnya. Sedangkan kelas men of the pen terdiri dari pemimpin percetakan, pemimpin lembaga sains, pengawas pasar dan super market, bendaharawan negara. Kelas yang paling rendah kedudukannya dari men of the pen adalah para pembantu yang terdiri dari pegawai sekretaris suatu departemen.
5. Arsitektur dan Seni
Para khalifah Fatimiah di Mesir sangat menyukai seni dan arsitektur. Ini terbukti dengan banyaknya bangunan dan gedung-gedung yang mempunyai nilai seni dan arsitektur yang tinggi. Diantara bangunan-bangunan yang mempunyai nilai seni dan arsitektur yang tinggi tersebut antara lain adalah masjid. Masjid yang termasyur pada masa khilafah Fathimiyah di Mesir antara lain: masjid al-Azhar, masjid al-Hakim bin Amriyah, masjid al-Qamar, masjid al-Shaleh thale.
Di samping itu terdapat lagi gedung-gedung yang terkenal, seperti gedung emas, gedung pembuat mata uang, gedung perpustakaan, dan Dar al-ilm semua gedung-gedung itu dibangun dengan megah sekali, yang nilai seni dan arsitekturnya tidak kalah dengan arsitek Romawi ataupun Bizantium.
Terjadinya kemajuan di dalam tubuh khilafah Fathimiyah di Mesir adalah merupakan hasil kerja sama yang baik antara para khalifah dengan rakyat dalam upaya untuk mewujudkan kemajuan dan kemakmuran.
C. FASE KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN
Fase kemunduran khilafah Fathimiyah berawal dari adanya konflik dengan Yunani mengenai masalah Suriah. Pada saat yang sama muncul pula suatu aksi Salib yang akan mengancam dan bahkan ingin menghancurkan Islam. Di sisi lain dalam tubuh kekhilafahan Fathimiyah sudah mulai terjadi perpecahan yang mengakibatkan para khalifah pada waktu itu kehilangan banyak kekuasaan, sedangkan wazirnya memegang kekuasaan eksekutif dan militer.
Pada masa al-Azis ketidak stabilan dalam pemerintahan sudah mulai terlihat. Artinya ia lebih mengutamakan orang-orang non Islam ketimbang 0rang-orang muslim. Bahkan ia menempatkankan orang-orang non Muslim pada posisi penting dalam pemerintahan. Sikap seperti ini akan menimbulkan adanya kecemburuan social yang pada gilirannya akan memicu kepada situasi anarkis dalam pemerintahannya.
Setelah periode pemerintahan al-Azis, muncul pula suatu gerakan religious Syi’i yang ekstrim yaitu Druze di Suriah selatan dan Lebanon. Gerakan ini menganggap al-Hakim sebagai titisan Tuhan. Perpecahan yang lebih serius dalam tubuh khilafah Fathimiyah di Mesir, terjadi setelah meninggalnya al-Mustansir, sebab setelah meninggalnya al-Mustansir, gerakan Isma’illiyah terpecah menjadi dua kelompok yaitu Nizar dan al –Musta’li. Kondisi perpecahan ini sedikit banyaknya akan berpengaruh terhadap kestabilan pemerintahan khilafah ini. Ditambah lagi dengan terjadinya bencana kelaparan yang sangat memprihatinkan.
Hal ini terbukti dengan terjadinya disintegrasi pada masa itu. Kota Tripoli menjadi Negara kota yang independen. Libanon menuntut wilayah otonom sendiri. Bahkan Syiria berhasil direbut dinasti Saljuk pada tahun 1079, sehingga Syiria pada waktu itu terbagi atas dua kekuatan Saljuk yaitu di Aleppo dan Damaskus. Sementara itu di Aleppo nur al-Din mengadakan perjanjian dengan Bizantium dan ia ingin menaklukkan beberapa wilayah termasuk Mesir untuk menaklukan wilayah itu. Karena suasana anarkis telah melanda khalifah Fathimiyah, maka akhirnya pada tahun 1171 Shirkuh dan Salah al-Din dengan mudah dapat menaklukan sekaligus mengahancurkan khilafah Fathimiyah yang sudah sempoyongan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor penyebab kemunduran khifalah Fatimiah di Mesir antara lain adalah (1) terjadinya disintegrasi wilayah; (2) munculnya aksi tentara salib; (3) kemunduran otoritas kekhalifahan; (4) terjadinya pemberontakan; (5) bencana kelaparan; (6) sikap pilih kasih khalifah; (7) konflik keluarga; (8) merekrut orang negro dan orang turki sebagai tentara dan; (9) serangan yang dilancarkan oleh salah al-Din beserta tentaranya yang menyebabkan hancurnya khalifah Fatimiyah.
D. KESIMPULAN
Menyimak uaraian diatas, ternyata masa kegemilangan khilafah Fatimiyahditandai dengan perpindahan ibu kota ke Kairo tahun 973. Dengan bepindahnya ibu kota khilafah ini telah menawarkan prospek baru bagi kemajuannya.
Indikasi-indikasi kemajuan khilafah Fatimiyah dapat dilihat dari beberapa bidang antara lain; bidang politik, ilmu pengetahuan, ekonomi, administrasi, militer, arsitektur, dan seni. Kemajuan yang dicapai dalam berbagai bidang kehidupan merupakan hasil kerja sama antara khalifah dengan masyarakat.
Sebaliknya, fase kemunduran dari suati dinasti atau khilafah yang berujung pada kehancuran khilafah itu adalah merupakan suatu gejala alamiah yang terjadi dalam sejarah. Hal ini terjadi juga terhadap khilafah Fatimiyah di Mesir, yang mencapai klimaksnya setelah ditakhlukkan oleh salah al-Din pada tahun 1171.

DAFTAR PUSTAKA

Al Hafni, Abdul Mun’im, Ensiklopedia, Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai dan Gerakan Islam, Jakarta: Soegeng Sarjadi Syndicate, Grafindo Khazanah Ilmu, 2006.

Al-Mahalli, Imam Jalaluddin dan As-Suyuthi, Imam Jalaluddin, Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbaabun Nuzuul Jilid 1, Penerjemah Bahrun Abubakar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996.

Azra, Azyumardi, Ensiklopedi Islam 4, Cet. 10, Jakarta : PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 2002.

Azra, Azyumardi, Ensiklopedi Islam 2, Cet 11 (Jakarta : PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 2003 ) h. 338.

_______ Ensiklopedi Islam 3, Cet. 11, Jakarta : PT. Ikhtiar Baru Van Hove, 2003.

Kiswati, Tsuroya, Al Juwani, Peletak Dasar Teologi Rasional Dalam Islam, Jakarta, Erlangga, 2005.

Muhammad bin Abdul Karim, Asy-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal (Buku I), terjemahan oleh Asy Wadie Syukur, LC, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2006.