Thursday, April 14, 2011

KONSEP PEMBELAJARAN

Konsep pembelajaran
Oleh : Sawiyanto, S.PdI

Pembelajaran atau pengajaran pada dasarnya merupakan kegiatan guru/dosen menciptakan situasi agar siswa/mahasiswa belajar. Tujuan utama dari pembelajaran atau pengajaranagar siswa/mahasiswa belajar. Mengajar dan belajar merupakan dua kegiatan yang dapat dipisahkan, ibarat sebuah mata uang yang bermata dua. Bagaimanapun baiknya guru/dosen mengajar, apabila tidak terjadi proses belajar pada para siswa/mahasiswa, maka pengajarannya tidak baik, tidak berhasil. Sebaliknya, meskipun cara atau metode yang digunakan guru/dosen sangat sederhana, tetapi apabila mendorong para siswa/mahasiswa banyak belajar, pengajaran tersebut cukup berhasil.
Mealui proses belajar tersebut terjadi perubahan, perkembangan, kemajuan, baik dalam aspek fisik-motorik, intelek, sosial-emosional maupun sikap dan nilai. Makin besaratau makin tinggi atau banyak perubahan atau perkembangan itu dapat dicapai oleh siswa maka makin baiklah proses belajar. Proses belajar-mengajar disisni adalah dalam rangka pendidikan, dan di dalam pendidikan semua aktivitas dan peubahan tau perkembangan mengarah kepada yang baik. Perkembangan kea rah yang tidak baik, itu bukanlah pendidikan. Kegiatan pendidikan selalu normative. Jadi perubahan atau perkembangan yang diarahkan dalam proses belajar-mengajar juga adalah perubahan dan perkembangan yang sifatnya normative atau digunakan secara normatif.
Belajar merupakan proses mental yang dinyatakan dalam berbagai perilaku, baik perilaku fisik-motorik maupun psikis. Meskipun suatu kegiatan belajar merupakan kegiatan fisik-motorik (keterampilan) tetapi di dalamya tetap terdapat kegiatan mental, tetapi kegiatan fisik-motorik lebih banyak dibandingkan dengan proses mentalnya. Pada kegiatan belajar yang bersifat psikis, seperti belajar intelektual, soaial-emosi, sikap-perasaan-nilai, segi fisiknya sedikit yang sangat banyak adalah segi mentalnya. Aspek-aspek perkembangan tersebut, bias dibeda-bedakan tetapi tidak bisa dipisahkan secara jelas. Suatu aspek selalu ada kaitannya dengan aspek lainnya.
Mengajar atau membelajarkan bukan suatau pekerjaan yang mudah, membutuhkan kesungguhan, semangat, pengetahuan, keterampilan, dan seni. Mengajar berbeda dengan membuat kursi, atau beternak ayam. Dalam membuat kursi atau beternak ayam, berhadapan antara subyek dengan obyek. Pembuatan kursi atau peternak ayam adalah subyek, sedang kursi atau kayu bahan kursi dan ayam adalah obyek. Kayu bahan kursi memiliki sejumlah sifat, tetapi sifat-siaftnya sederhana dan kondisinya statis, mudah dipahami. Ayam hidup, diamping sifat-sifat terhadap dinamika tetapi masih sederhana, relative masih mudah dipahami. Berbeda dengan membelajarkan siswa/mahasiswa. Siswa /mahasiswa adalah individu manusia, yang memiliki karakteristik yang sangat kompleks dan unik serta berkembang dinamis. Tiap siswa/mahasiswa mwmiliki potensi dan kecakapan berpikir, sosial, komunikasi, seni, keterampilan yang berbeda, tiap siswa/mahasiswa juga memiliki karakteristik fisik, sosial, emosi, sikap, nilai yang berbeda pula. Semua potensi, kecakapan dan karakteristik tersebut membentuk satu kepribadian yang khas yang unik, berbeda satu dengan yang lainnya. Keunikannya bertambah kompleks karena manusia itu berkembang, dan perkembangannya dinamis karena selalu dalam melakukan interaksi dengan lingkungan.
Dalam mengajar seseorang guru/dosen diharapkan pada keragaman karakteristik dan dinamika perkembangan siswa/mahasiswa. Sesungguhnya secara psikologis, tidak ada dua individu siswa/mahasiswa yang tepat sama, yang ada adalah keragaman. Oleh karena itu mengajar itu adalah ilmu dan sekaligus seni. Ada ilmu mengajar, tetapi itu saja belum cukup, diperlukan juga seni mengajar. Seni mengajar merupakan kreativitas guru menemukan pendekatan atau model mengajar yang memungkinkan setiap siswa atau amahasiswa mengembangkan potensi, kecakapan dan karakteristiknya secara optimal.

Dasar-dasar pemilihan model pembelajaran
Agar tercipta pembelajaran atau pengajaran yang efektif, perlu digunakan pendekatan, model aatau metode pembelajaran yang tepat. Pemilihan pendekatan, model, metode mengajar/pembelajaran hendaknya didasarkan atas beberapa pertimbangan.
Tujuan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran diarahkan pada pencapaian tujuan belajar. Tujuan memberikan arah terhadap semua kegiatan dan bahan yang akan disajikan. Setiap bahan dan pendekatan mengajar dirancang dan dilaksanakan dengan maksud pencapaian tujuan secara maksimal. Tujuan pengajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku atau performansi. Tujuan tersebut ada yang berkenaandengan ranah kognitif, afektif ataupun psikomoto. Tujuan mana yang kan dicapai oleh suatu pengajaran? Apakah pengajaran tersebut diarahkan pada pencapaian tujuan ranah kognitif, afektif dan psikomotor? Model pembelajaran untuk masing-masing ranah tersebut memiliki perbedaan.
Karakteristik mata pelajaran. Mata pelajaran yang akan diberikan termasuk atau bagian dari bidang ilmu atau bidang atau bidang profesi tertentu. Tiap bidang ilmu dan bidang profesi memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan yang lainnya. Bidang matematika, bahasa, dan seni umpamanya memiliki karakteristik yang sangat berbeda, model atau atau pendekatan mengajarnya juga sangat berbeda. Perbedaan karakteristik ini berkenan dengan substansi keilmuan dan keprofesiannya. Guru perlu menyesuaikan model pembelajarannya sesuai dengan karakteristik masing-masing bidang ilmu atau profesi.
Kemampuan siswa. Siswa/mahasiswa adalah subyek dan pelaku dari kegiatan pembelajaran. Pembelajaran diarahkan agar siswa/mahasiswa belajar. Melalui kegiatan belajar ini potensi-potensi, kecakapan dan karakteristik siswa/mahasiswa dikembangkan. Kemampuan siswa/mahasiswa merupakan hal yang sangat kompleks, selain terkait dengan jenis dan variasi tingkatan kemampuan yang dimiliki para siswa/mahasiswa, tetapi juga dengn tahap perkembangan, status, pengalaman belajar, serta berbagai factor yang melatarbelakanginya.
Dengan mangambil contoh kemampuan siswa berusia 18 tahun atau yang termasuk kelompok adolensen dan dewasa (muda). Beberapa kemampuan dan karakteristik mereka dapat dideskripsikan sebagai berikut.
Kemampuan intelektual, siswa/mahasiswa menggunakan konsep Piaget berada pada tahapan : Berpikir tahap tinggi atau berpikir formal operasional. Pada tahap ini para siswa/mahasiswa telah amapu berpikir : (1) hipotesis-abstrak, (2) deduktif-induktif, (3) analisis-sintesis, (4) konvergen-divergen, (5) pemecahan masalah, dan (6) berpikir kreatif.
Dalam aspek afektif, dengan menggunakan tahapan perkembangan moral kognitif dari Kohlberg, mereka telah berada pada tahapan pertimbangan kata hati (Concience-principle), suatu tahapan kesadaran moral, yang perbuatannya didasarkan atas keputusan kata hati. Dia berbuat baik karena menurut kata hatinya, itu yang harus dilakukan, tanpa melihat atribut-atribut tertentu.
Motivasi belajarnya, dengan menggunakan tahapan perkembangan motif dari Abraham Maslow telah berada pada tahap aktualisasi diri, mengaktualkan semua potensi yang dimilikinya. Kemampuan sosialnya telah ampu mandiri (Independience-autonomy), mampu melakukan kerjasama secara luas, ampu memimpin kelompok besar, serta telah memiliki kemampuan berbahasa kompleks.
Agar para siswa/mahasiswa dapat mengembangkan semua potensi, kecakapan, dan karakteristiknya secara optimal, dibutuhkan pendekatan, model, dan metode pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan dan kemampuan siswa/mahasiswa tersebut.
Kemampuan Guru. Meskipun guru atau dosen seharusnya seorang pendidik professional, dalam kenyataannya kemampuan profesionalnya masih terbatas. Terbatas karena latar belakang pendidikan, pengalaman, pembinaan yang belum intensif, atau karena hal-hal yang bersifat internal. Pemilihan pendekatan, model atau metode mengajar juga harus disesuaikan dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada pada guru/dosen. Seorang guru atau dosen tidak bias mengajarkan apa yang tidak dia kuasai.

Prinsip-prinsip pembelajaran
Agar pendidikan dan kurikulum berbasis kompetensis dapat terlaksana secara optimal dan mencapai kompetensi “sesuai standar” dalam pengembangan dan implementasinya perlu memperhatikan beberapa prinsip.
1) Agar setiap siswa atau mahasiswa dapat menguasai kompetensi standar perlu disediakan waktu yang cukup dengan program pembelajaran yang berkualitas menggunakan media dan sumber yang sesuai dengan penyediaan waktu yang mencukupi.
2) Setiap siswa atau mahasiswa memiliki kemampuan untuk menguasai kompetensi yan dituntut, tanpa memperhatikan latar belakang pendidikan dan pengalaman mereka. Dengan penyelenggaraan program pembelajaran yang baik dan waktu yang cukup setiap siswa/mahasiswa dapat mencapai hasil yang ditargetkan. Siswa/mahsiswa yang kemampuannya kurang, membutuhkan waktu yang lebih lama dan bimbingan yang lebih intensif.
3) Perbedaan individual dalam penguasaan kompetensi di antara siswa/mahasiswa, bukan saja disebabkan karena factor-faktor pada diri peserta tetapi karena ada kelemahan dalam lingkungan pembelajaran. Ada tiga factor yang perlu diperhatikan dalam penyediaan lingkuangan pembelajaran, yaitu :
a) Apakah prasyarat pembelajaran sudah dikuasai oleh para siswa/mahasiswa?,
b) Apakah siswa/mahasiswa telah memiliki sikap dan perassaan yang positif terhadap proses pembelajaran?,
c) Apakah program pembelajaran berkualitas, dan waktu yang disediakan sudah cukup?
4) Tiap siswa/mahasiswa mendapatkan peluang yang sama untuk memiliki kemampuan yang diharapkan, asal disesuaikan dengan kecepatan belajar masing-masing. Motivasi belajar lebih lanjut akan muncul apabila tersedia dan tercipta kondisi program pembelajaran yang baik. Setiap siswa/mahasiswadapat menguasai kompetensi yang diharapkan, asalkan rancangan dan pelaksanaan program pembelajaran sedekat mungkin diarahkan pada pencapaian sasaran pembelajaran.
5) Apa yang berharga dalam pembelajaran adalah berharga dalam belajar. Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan agar apara siswa/mahasiswa belajar. Semua upaya peningkatan pembelajaran diarahkan agar mereka belajar secara optimal. Kalau siswa/mahasiwa mengalami kegagalan dalam belajar, itu adalah kesalahan perencanaan dan pelaksanaan pendidikan. Perlu dicari penyebabnya dan terus disempurnakan.