Thursday, April 14, 2011

PENGAWASAN dalam PENDIDIKAN ISLAM
di MADRASAH ALIYAH (MA)
OLEH : SAWIYANTO, S.PDI


A. PENDAHULUAN
PENGAWASAN (CONTROLLING) DAN SERING PULA DISEBUT PENGENDALIAN MERUPAKAN SALAH SATU FUNGSI DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN. Pengawasan dalam pendidikan merupakan penilaian dan sekaligus koreksi terhadap pelaksanaan program kerja lembaga pendidikan apakah terlaksana dengan baik sesuai prosedur dan rencana yang ditetapkan (Tabrani Rusyan, 1922).
Pengawas sebagai tenaga fungsional kependidikan bertanggung jawab dalam membina kemapanan profesional guru untuk mempertinggi mutu pembelajaran dan membina kepala sekolah dalam meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan. Dalam upaya meningkatkan mutu penyelenggara pendidikan kepala sekolah merupakan tenaga kependidikan yang langsung bertanggung jawab terhadap kemajuan mutu pendidikan tempat kepala sekolah yang bersangkutan bertugas.
Kinerja kepala sekolah sesuai dengan kompetensi kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu : Kompetensi Profesional, Kompetensi Wawasan Kependidikan dan Manajemen Pendidikan, Kompetensi Kepribadian, dan Kompetensi Sosial akan mencapai hasil optimal bila mendapat pembinaan secara intensif dari pengawas satuan pendidikan.
Kepala sekolah mempunyai tugas berat untuk memajukan sekolah yang dipimpinnya baik kemajuan dalam bidang akademik maupun non akademik. Kemajuan dalam bidang akademik mencakup penguasaan materi pembelajaran baik oleh guru maupun oleh siswa sehingga pencapaian target pencapaian kurikulum dan ketuntasan belajar dapat secara optimal sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sedangkan kemajuan non akademik harus sesuai dengan bidang akademik.
Dalam pendidikan, pengawasan merupakan bagian tidak terpisahkan dari upaya peningkatan prestasi belajar dan mutu sekolah. Sahertian (2000 : 19) menegaskan bahwa pengawasan atau supervisi pendidikan adalah usaha memberikan layanan kepada stakeholder pendidikanm terutama kepada guru-guru, baik secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran.
Lebih lanjut Ofsted (2005) menyatakan bahwa fokus pengawasan sekolah meliputi : (1) standar dan prestasi yang diraih siswa, (2) kualitas layanan siswa di sekolah (efektifitas belajar mengajar, kualitas program kegiatan sekolah, kualitas bimbingan siswa), serta (3) kepemimpinan dan manajemen sekolah.
B. PEMBAHASAN
Berdasarkan Undang-Undnag Republik Indonesia nomor 20tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab XIX pasal 66 bahwa : “Pemerintah, Pemerintah daerah, Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah/Madrasah melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangan masing-masing”.
Pengawasan Madrasah meliputi pemantauan, supervise, evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut hasil pengawasan.
1. Pemantauan
Pemantauan dilakukan oleh pimpinan madrasah dan komite madrasah atau bentuk lain dari lembaga perwakilan pihak-pihak yang berkepentingan secara teratur dan berkesinambungan untuk menilai efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas madrasah.
2. Supervisi
Supervise berasal dari dua kata bahasa inggris, yaitu super dan vision. Super baerarti diatas dan vision artinya melihat, sehingga supervise secara bahasa dapat diartikan dengan melihat dari atas. Irwin dan Humphrey dalam buku Principle and Techniques of Supervisor in Pshysical Education (dalam Wirajasantoso berpendapat bahwa: Supervisi adalah suatu usaha atau kegiatan yang hanya berurusan dengan inspeksi atau pemeriksaan. Sementara Departemen Agama RI mengartikan kata supervise dengan “Melihat dengan sangat teliti pekerjaan secara keseluruhan.
Piet Sahertian dan Frans Mateheru (dalam Soebagio Atmadiwirio) menyatakan bahwa : “ Supervisi adalah usaha dari pengawas sekolah dalam memimpin guru dan petugas-petugas lainnya, dan memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru dan merevisi tujuan pendidikan, bahan pengajaran, metode mengajar dan evaluasi pengajaran.
Dalam makalah ini penulis akan membahas supervise akademik dan supervise manajerial yang merupakan tugas dari seorang pengawaspendidikan.
a. Supervisi Akademik;
Sasaran supervisi akademik antara lain adalah untuk membantu guru dalam hal: (a) merencanakan kegiatan pembelajaran dan atau bimbingan, (b) melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan, (c) menilai proses dan hasil pembelajaran/bimbingan, (d) memanfaatkan hasil penilaian untuk peningkatan layanan pembelajaran/bimbingan, (e) memberikan umpan balik secara tepat dan teratur dan terus menerus pada peserta didik, (f) melayani peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, (g) memberikan bimbingan belajar pada peserta didik,(h) menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, (i) mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu dan media pembelajaran dan atau bimbingan, (j) memanfaatkan sumber-sumber belajar, (k) mengembangkan interaksi pembelajaran/bimbingan (metode, strategi, teknik, model, pendekatan dan sebagainya) yang tepat dan berdaya guna, (l) melakukan penelitian praktis bagi perbaikan pembelajaran/bimbingan, dan (m) mengembangkan inovasi pembelajaran/bimbingan.
Dalam melaksanakan supervisi akademik, pengawas sekolah/madrasah hendaknya memiliki peranan khusus sebagai :
(1) patner (mitra) guru dalam meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran dan bimbingan di sekolah/madrasah binaannya,
(2) inovator dan pelopor dalam mengembangkan inovasi pembelajaran dan bimbingan di sekolah/madrasah binaannya,
(3) konsultan pendidikan dan pembelajaran di sekolah/madrasah binaannya,
(4) konselor bagi guru dan seluruh tenaga kependidikan di sekolah/madrasah, dan
(5) motivator untuk meningkatkan kinerja guru dan semua tenaga kependidikan di sekolah/madrasah.
b. Supervisi Manajerial;
Sasaran supervisi manajerial adalah membantu kepala sekolah/madrasah dan tenaga kependidikan di sekolah di bidang administrasi sekolah/madrasah yang meliputi :
(a) administrasi kurikulum,
(b) administrasi keuangan,
(c) administrasi sarana prasarana/perlengkapan,
(d) administrasi tenaga kependidikan,
(e) administrasi kesiswaan,
(f) administrasi hubungan/madrasah dan masyarakat, dan
(g) administrasi persuratan dan pengarsipan.
Dalam melaksanakan supervisi manajerial, pengawas sekolah/madrasah memiliki peranan khusus sebagai:
1. konseptor yaitu menguasai metode, teknik, dan prinsip-prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah/madrasah;
2. programer yaitu menyusun program kepengawasan berdasarkan visi, misi,tujuan, dan program pendidikan di sekolah/madrasah;
3. komposer yaitu menyusun metode kerja dan instrumen kepengawasan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi pengawas di sekolah/madrasah;
4. reporter yaitu melaporkan hasil-hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program pengawasan berikutnya di sekolah/madrasah;
5. builder yaitu: (a) membina kepala sekolah/madrasah dalam pengelolaan (manajemen) dan administrasi sekolah/madrasah berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah/madrasah dan (b) membina guru dan kepala sekolah/madrasah dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah/madrasah;
6. supporter yaitu mendorong guru dan kepala sekolah/madrasah dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapai untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya di sekolah/madrasah; dan
7. observer yaitu memantau pelaksanaan standar nasional pendidikan di sekolah/madrasah; dan
8. user yaitu memanfaatkan hasil-hasil pemantauan untuk membantu kepala sekolah dalam menyiapkan akreditasi sekolah.
Pengawas sekolah/madrasah selama ini menurut pengamatan sekilas di lapangan cenderung lebih banyak melaksanakan supervisi manajerial daripada supervisi akademik. Supervisi akademik misalnya seperti berkunjung ke kelas-kelas mengamati guru yang sedang mengajar tanpa mengganggu. Hasil pengamatan dianalisis dan didiskusikan dengan guru serta akhirnya dapat menjadi masukan guru dalam memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Dengan demikian, hasil belajar siswa diharapkan akan meningkat.Komposisi kegiatan supervisi manajerial dengan kegiatan supervisi akademik disarankan 25 persen berbanding 75 persen (Pokja Pengawas, 2006).
Istilah pengawasan dalam beberapa literatur asing sekurang-kurangnya dapat dipahami dalam konteks: (1) inspection, (2) control, dan (3) supervision. Ketiga istilah di atas memiliki makna berbeda. Inspection memiliki esensi membangun legal complience, yaitu kepatuhan pada perundangan dan peraturan kelembagaan yang mengikat. Control mempunyai esensi membangun managerial compliance, yaitu kepatuhan pada kaidah manajerial, kepemimpinan, kebijakan, keputusan, perencanaan dan program institusi yang telah ditetapkan. Supervision memiliki esensi professional compliance, yaitu kepatuhan profesional dalam arti jaminan bahwa seorang profesional akan menjalankan tugasnya didasarkan atas teori,konsep-konsep, hasil validasi empirik, dan kaidah-kaidah etik. Kontrol dan inspeksi dalam praktek pengawasan satuan pendidikan hanya diperlukan dalam batas-batas tertentu, sedangkan yang lebih utama terletak pada supervisi pendidikan.Berdasarkan tuntutan profesionalisme, otonomi dan akuntabilitas profesional;pengawasan pendidikan dikembangkan dari kajian supervisi pendidikan. Supervisi pendidikan merupakan fungsi yang ditujukan pada penjaminan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Supervisi akademik sama maksudnya dengan konsep supervisi pendidikan. Educational supervision sering disebut pula sebagai Instructional Supervision atau Instructional Leadership. Fokusnya utamanya adalah mengkaji, menilai, memperbaiki, meningkatkan, dan mengembangkan mutu proses pembelajaran yang dilakukan bersama dengan guru (perorangan atau kelompok) melalui pendekatan dialog, bimbingan, nasihat dan konsultasi dalam nuansa kemitraan yang profesional. Merujuk pada konsep supervisi pendidikan di atas, maka pengawas sekolah/madrasah pada hakekatnya adalah supervisor (penyelia) pendidikan, sehingga tugas utamanya adalah melaksanakan supervisi akademik yaitu membantu guru dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang lebih optimal. Di luar tugas itu, pengawas sekolah/madrasah melaksanakan juga supervisi manajerial yakni membantu kepala sekolah dan staf sekolah untuk mempertinggi kinerja sekolah agar dapat meningkatkan mutu pendidikan pada sekolah yang dibinanya.

3. Evaluasi
Melakukan evaluasi diri (self assesment) utnuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah, personil sekolah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan, maupun aspek lainnya.
Berdasarkan analisis tersebut sekolah harus mengidentifikasikan kebutuhan sekolah dan merumuskan visi, misi, dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai. Hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan identifikasi kebutuhan dan perumusan visi, misi dan tujuan adalah bagaimana siswa belajar, penyediaan sumber daya dan pengeloaan kurikulum termasuk indikator pencapaian peningkatan mutu tersebut.
Melakukan monitoring dan evaluasi untuk menyakinkan apakah program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan, apakah tujuan telah tercapai, dan sejauh mana pencapaiannya. Karena fokus kita adalah mutu siswa, maka kegiatan monitoring dan evaluasi harus memenuhi kebutuhan untuk mengetahui proses dan hasil belajar siswa. Secara keseluruhan tujuan dan kegiatan monitoring dan evaluasi ini adalah untuk meneliti efektifitas dan efisiensi dari program sekolah dan kebijakan yang terkait dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Seringkali evaluasi tidak selalu bermanfaat dalam kasus-kasus tertentu, oleh karenanya selain hasil evaluasi juga diperlukan informasi lain yang akan dipergunakan untuk pembuatan keputusan selanjutnya dalam perencanaan dan pelaksanaan program di masa mendatang. Demikian aktifitas tersebut terus menerus dilakukan sehingga merupakan suatu proses peningkatan mutu yang berkelanjutan.
4. Pelaporan
Fungsi pengevaluasian pelaporan meliputi pengevaluasian pelaporan terhadap kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan di sekolah/madrasah sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan, pelaporan perkembangan dan hasil pengawasan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Propinsi dan/atau Nasional, pelaporan perkembangan dan hasil pengawasan ke sekolah/madrasah binaannya, Komite Sekolah/Madrasah dan stakeholder lainnya.
5. Tindak lanjut hasil pengawasan
Fungsi penindaklanjutan meliputi penindaklanjutan terhadap laporan hasil pengawasan untuk perbaikan program pengawasan berikutnya di sekolah/madrasah; penindaklanjutan terhadap kelebihan-kelebihan dan kekurangan sekolah/madrasah hasil refleksi guru, kepala sekolah/madrasah, dan tenaga kependidikan lainnya; penindaklanjutan terhadap hasil-hasil pemantauan pelaksanaan standar nasional untuk membantu kepala sekolah/madrasah dalam menyiapkan akreditasi sekolah/madrasah; dan penindaklanjutan terhadap karya tulis ilmiah yang telah dihasilkan oleh guru dan kepala sekolah/madrasah.

C. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peranan pengawas sangat strategik di dalam melakukan fungsi supervisi akademik dan manajerial di sekolah/madrasah. Sebagai supervisor akademik, ia dituntut untuk memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan di bidang proses pembelajaran sehingga ia dapat memainkan peranan dan fungsinya membantu guru dalam meningkatkan proses dan strategi pembelajaran. Sedangkan sebagai supervisor manajerial, ia dituntut untuk memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan di bidang manajemen dan leadership sehingga ia dapat memainkan peranan dan fungsinya dalam membantu kepala sekolah/madrasah dalam mengelola sumberdaya sekolah/madrasah secara efisien dan efektif. Seorang pengawas juga harus dapat memainkan peranan dan fungsinya di dalam membina kepala sekolah/madrasah untuk mampu membawa berbagai perubahan di sekolah/madrasah. Kepemimpinan kepala sekolah/madrasah dalam mentransformasikan perubahan organisasi sekolah/madrasah merupakan peranan yang sangat penting. Dengan demikian,pengawas sekolah/madrasah dituntut memiliki pengetahuan dan wawasan untuk membina kepala sekolah/madrasah di bidang leadership yang dapat menciptakaniklim dan budaya sekolah/madrasah yang kondusif bagi proses pembelajaran sehingga mencapai kinerja sekolah/madrasah, kinerja kepala sekolah/madrasah, dan prestasi siswa yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA


Abdul Rahman Shaleh,Bina Mitra Pemberdayaan Madrasah, Profil Madrasah Masa Depan (Depag RI Majelis Pertimbangan dan Pemberdayaan Pendidikan Agama dan Keagamaan MP3A,cet. Ke-2, 2006, Aditama Bandung)

Departemen Agama RI, Pedoman Pengembangan Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2003)

Pokja Tenaga Pengawas. 2006. Manajemen Pengembangan Tenaga Pengawas Satuan Pendidikan. (Jakarta : Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional)

Ratal Wirajasantoso, Supervisi Pendidikan Olah Raga, (Jakarta: Universitas Indonesia Prees, 1984)

Sahertian, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan (Jakarta: Bineka Cipta)
Soebagio Atmodiwirio, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Ardadizya Jaya, 2000)

Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam,(PT. Ciputat Press, Jakarta)

http://elhamedia.wordpress.com/2009/10/17/manajemen-peningkatan-mutu