Banner Jalan

GNIB OKE

Kamis, 14 April 2011

RECOMMENDATION OF FIRST WORLD CONFERENCE ON MUSLIM EDUCATION 1977 IN MEKKA (THE GENERAL PRUDENTION OF MUSLIM EDUCATION CONCEPT) = Rekomendasi Konferensi Dunia I umat Islam tentang Pendidikan Islam Di Mekah Tahun 1977 ( Kebijakan Umum Umat Islam Tentang Konsep Pendidikan Islam)

OLEH : SAWIYANTO, S.PDI

A. PENDAHULUAN.
Pada Konferensi Dunia pertama tentang pendidikan pada tahun 1977 di Mekkah para sarjana merumuskan apa sarasaran tujuan pendidikan itu? Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia, secara total membahas latihan semangat, intelektual rasional diri, perasaan dan kepekaan rasa tubuh. Dalam upaya mencapai tujuan itu para peserta akhirnya merumuskan desain baru tentang kurikulum atas dasar klasifikasi baru mengenai ilmu pengetahuan. Klasifikasi tersebut menegaskan ada dua kategori yaitu pengetahuan abadi yang berasal dari al-Quran dan sunah, yang berarti semua pengetahuan yang berorientasi pada syari’ah yang berhubungan dan berkaitan dengan itu, dan pengetahuan yang dipelajari yang rentan tehadap pertumbuhan kualitatif dan kuantitatif, begitu pula terhadap multiplikasi, variasi yang terbatas dan persilangan budaya selama tetap konsisten dengan syariah sebagai sumber nilai-nilai, umat islam pada saat itu bertekad pula untuk memperkuat pranata-pranata pendidikan dengan memberantas buta aksara memberantas kebodohan menanamkan kebajikan moral dan mengkonsolidasikan kebudayaannya dan memperkuat solidaritasnya dengan meyakini terus menyebarkan prinsip-prinsip islam dan penyebaran keagungan budayanya keseluruh masyarakat muslim di dunia.
Untuk membuat pendidikan yang berwatak islam, para penguasa yang berwenag dan para ahli bukan saja mengemukakan norma-norma tersebut secara lisan saja, tetapi menunjukan dan membantu para ahli pendidikan untuk menyusun kurikulum itu, penulisan buku-buku teks, buku penuntun guru dan pembuatan metodologi pengajaran.
Langkah-langkah untuk mencapai tujuan diatas adalah konseptualisasi dengan konsep keagamaan yang diambil dari Al-Quran dan As-Sunah karena sudah terbukti bahwa konsep sekularisasi atau konsep model pendidikan barat tidak dapat membuat dunia ini menjadi damai dan sejahtera.
B. Konsep dan Sikap.
Masalah sumber daya manusia dan seribu satu permasalahan pendidikan yang dihadapi umat ini menjadi rationale utama, yang membidani kelahiran Konferensi Dunia I mengenai Pendidikan Islam (First World Conference on Islamic Education) yang diadakan di Mekkah tahun 1977. Konferensi yang dihadiri oleh tokoh-tokoh pendidikan umat Islam dari seluruh dunia ini kemudian dilanjutkan dan dimatangkan lagi pada Konferensi Dunia II mengenai Pendidikan Islam (Second World Conference on Islamic Education) di Islamabad, Pakistan, pada 1980. Tujuan dan harapan disleenggarakannya kedua konferensi tersebut sangat jelas, yaitu untuk memantapkan dan meningkatkan mutu pendidikan umat yang tengah mengalami degradasi pascadominasi Barat. Al-Attas yang mendapat kehormatan menyampaikan keynote address pada konferensi itu memang telah memiliki konsep pendidikan fundamental.
Di antara konsep pendidikan Al-Attas yang fundamental adalah konsepnya mengenai ta’dib. Baginya, masalah mendasar bagi pendidikan Islam adalah hilangnya nilai-nilai adab dalam arti luas. Hal ini lebih disebabkan oleh rancunya pemahaman konsep tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Al-Attas lebih cenderung menggunakan istilah ta’dib untuk konsep pendidikan Islam sebab jika konsep ta’dib ini diterapkan secara komprehensif, integral, dan sistematis dalam praktik pendidikan Islam, pelbagai persoalan pengembangan sumber daya manusia Muslim diharapkan dapat diatasi. Lagi pula, dalam sejarah Islam proses pendidikan Muslim lebih cenderung pada pengertian ta’dib daripada tarbiyah atau ta’lim. Alasan yang lebih mendasar lagi adalah adab berkaitan erat dengan ilmu, sebab ilmu tidak dapat diajarkan atau ditularkan kepada anak didik kecuali jika anak tersebut memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam pelbagai bidang. Konsep pendidikan Islam yang hanya terbatas pada makna tarbiyah dan ta’lim ini telah dirasuki pandangan hidup Barat yang berlandaskan nilai-nilai dualisme, sekularisme, humanisme, dan sofisme sehingga nilai-nilai adab menjadi semakin kabur dan semakin jauh dari nilai-nilai hikmah ilahiah. Kekaburan makna adab atau kehancuran adab tersebut mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan kegilaan. Kezaliman adalah melakukan cara yang salah untuk mencapai hasil tujuan tertentu, dan kegilaan adalah perjuangan yang berdasarkan tujuan dan maksud yang salah. Kecenderungan Kecenderungan kaum terpelajar Muslim untuk mengadopsi ide-ide skeptisisme, relativisme, sofisme dari Barat ke dalam Islam, misalnya, pada hakikatnya adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, seperti meletakkan yang absolute pada derajat nisbi atau sebaliknya dan hal ini menunjukkan kehancuran adab.
Dari konsep ta’dib ini, kita juga dapat memahami hubungannya dengan temuan Al-Attas mengenai problem ilmu pengetahuan sebagai penyebab kemunduran umat. Problem ini tidak berkaitan dengan masalah buta huruf atau persoalan kebodohan orang awam, tetapi ilmu pengetahuan yang disalahartika, bertumpang tindih, atau dikacaukan oleh pandangan hidup asing, khususnya Barat. Akibatnya, makna ilmu itu sendiri telah bergeser jauh dari makna hakiki dalam Islam. Rumusannya seperti membentuk lingkaran setan : jika adab adalah prasyarat bagi penularan ilmu pengetahuan, sebaliknya, rusaknya ilmu pengetahuan dapat dilacak dari rusaknya adab. Artinya kerancuan dalam berpikir, korupsi ilmu pengetahuan, pelacuran ilmiah adalah akibat-akibat yang dihasilkan oleh rusaknya adab. Kerusakan ini akan menghambat masyarakat dalam melahirkan pemimpin yang berkualitas di segala bidang dan lapisan, atau sebaliknya memaksa masyarakat melahirkan pemimpin gadungan yang cenderung menghancurkan masyarakat daripada membangunnya. Semua itu berasal dari kualitas lembaga pendidikan yang telah kehilangan konsep adab. Untuk memperbaiki keadaan ini, umat Islam harus dapat meletakkan kembali konsep pembangunan, bukan dalam arti pembangunan fisik atau ekonomi semata, melainkan harus dimulai dari pembangunan individu yang memahami kedudukannya, baik di hadapan Tuhan, masyarakat, maupun dirinya sendiri. Dengan kata lain, pembangunan masyarakat harus dilandaskan pada konsep pengembangan individu yang mengarah pada pembentukan manusia beradab yang dapat menghadapi segala problematika kehidupan tanpa kehilangan identitas diri. Menurut Al-Attas, pembentukan individu yang beradab tersebut, secara strategis, dapat dimulai dari pendidikan universitas, tetapi pendidikan universitas tersebut harus terlebih dahulu diletakkan dan didasarkan pada interpretasi yang benar terhadap hikmah ilahiah sehingga dapat melahirkan sarjana, ulama, dan pemimpin Muslim yang memiliki pandangan hidup Islam.
C. Rekomendasi:
1. Tujuan Pendidikan.
Pendidikan Islam bertujuan membentuk pribadi Muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia, baik yang berbentuk jasmani maupun rohani, menumbuhsuburkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Allah, manusia, dan alam semesta. Pendidikan Islam berupaya mengembangkan individu yang utuh yang dapat mewarisi nilai-nilai Islam.
Konferensi Pendidika Islam Internasional pertama 1977, di Jeddah, telah merumuskan tentang tujuan pendidikan Islam, yaitu : The aim of Muslim education is the creation of the good and righteous man who worships Allah ini the true sence of the term, builds up the structure of his earthly life according to the syariah (law) and employs it to subserve his faith.
Pada Konferensi Dunia pertama tentang pendidikan pada tahun 1977 di Mekkah para sarjana merumuskan apa sarasaran tujuan pendidikan itu?. Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia, secara total membahas latihan semangat, intelektual rasional diri, perasaan dan kepekaan rasa tubuh. Dalam upaya mencapai tujuan itu para peserta akhirnya merumuskan desain baru tentang kurikulum atas dasar klasifikasi baru mengenai ilmu pengetahuan. Untuk membuat pendidikan yang berwatak islam, para penguasa yang berwenag dan para ahli bukan saja mengemukakan norma-norma tersebut secara lisan saja, tetapi menunjukan dan membantu para ahli pendidikan untuk menyusun kurikulum itu, penulisan buku-buku teks, buku penuntun guru dan pembuatan metodologi pengajaran. Langkah-langkah untuk mencapai tujuan diatas adalah konseptualisasi dengan konsep keagamaan yang diambil dari Al-Quran dan As-Sunah karena sudah terbukti bahwa konsep sekularisasi atau konsep model pendidikan barat tidak dapat membuat dunia ini menjadi damai dan sejahtera.
2. Pengelompokan Pengetahuan dan Sistem.
a. Kelompok Pengetahuan
Dari hasil-hasil rumusan konferensi dunia tentang pendidikan Islam, maka tergambar usaha untuk menintegrasikan ilmu-ilmu pengetahuan umum dan agama, yakni pengintegrasian antara ilmu yang tergolong perennial knowledge dengan ilmu yang tergolong acquiered knowledge. Di dalam merencanakannya kedua ilmu itu mesti tercakup pada semua tingkat pendidikan. Berkenaan dengan itu konferensi dunia kedua tentang pendidikan Islam telah menyusun subjek-subjek pelajaran pada tingkat dasar, menengah, dan perguruan tinggi. Dalam menyusun subjek-subjek tersebut telah dimasukkan seluruh ilmu yang mesti dikuasai oleh setiap muslim, yakni ilmu-ilmu yang meliputi agama, kealaman, social, humaniora.
b. Sistem Pengetahuan
Bertolak dari problematika tersebut di atas, di Islam pun dikenal dua sistem pendidikan yang berbeda proses dan tujuannya. Pertama, sistem pendidikan tradisional yang hanya sebatas mengajarkan pengetahuan klasik dan kurang peduli terhadap peradaban teknologi modern; ini sering diwarnai oleh corak pemikiran Timur Tengah. Kedua, sistem pendidikan modern yang diimpor dari Barat yang kurang mempedulikan keilmuan Islam klasik. Bentuk ekstrim dari sistem yang kedua ini berupa universitas modern yang sepenuhnya sekular dan karena itu pendekatannya bersifat non-agamis. Para alumninya sering tidak menyadari warisan ilmu klasik dari tradisi mereka sendiri.
Menurut Al-Attas (1984) percabangan sistem pendidikan tersebut di atas (tradisional-modern) telah membuat lambang kejatuhan umat Islam. Jika hal itu tidak ditanggulangi maka akan mendangkalkan dan menggagalkan perjuangan umat Islam dalam rangka menjalankan amanah yang telah diberikan Allah SWT. Allah telah menjadikan umat manusia di samping sebagai hamba-Nya juga sebagai khalifah di muka bumi, sehingga peranannya disamping mengabdikan diri kepada Allah juga harus bisa mewarnai dunia empiris.
3. Kurikulum dan Silabus : “pengetahuan abadi” yang diberikan.
Pengetahuan abadi yaitu berasal dari al-Quran dan sunah, yang berarti semua pengetahuan yang berorientasi pada syari’ah yang berhubungan dan berkaitan dengan itu.
Dalam kurikulum pendidikan Islam, materi kurikulum yang berupa ilmu pengetahuan, secara garis besar dikelompokkan menjadi dua macam menurut sumbernya, yaitu ilmu abadi (perennial) dan ilmu dicari (acquired) dengan akal, dikatakan :
Planning of education to be based on the classification of knowledge into two categories:
a. Perennial knowledge derived from Qur’an and the Sunnah meaning all Sharia--oriented knowledge relevant and relevant to them.
b. Acquired knowledge susceptible and cross-cultural borrowings as long as consistency with the Sharia as the sources of value is maintained. (Second World Confrence on Muslim Education, Under the Auspices of King Abdul Aziz University & Quaid-l-Azam University, 15 th-20 th March 1980 Islambad, p. 15-16)
Dari kedua jenis pengetahuan di atas hanya pengetahuan bentuk terakhir yang dipelajari melalui falsafah dan model kurikulum Barat. Sedang wahyu hanya diajarkan di sekolah agama, atau sekolah-sekolah non formal, ataupun ditempelkan dalam kurikulum sekolah umum, sebagai mata pelajaran tambahan, bukan dasar. Padahal menurut konsepsi Islam agar kurikulum itu bisa bersifat Islam haruslah konsep Islam berpadu dengan mata pelajaran lain (Langgulung, 1989: 157).
Mengapa kandungan atau isi kurikulum dalam pendidikan Islam perlu dipadukan? Hal ini, menurut Langgulung ada beberapa alasan yang perlu dikedepankan. Pertama, diharapkan melalui kurikulum terpadu akan keluar manusia-manusia yang mempunyai pengamatan yang terpadu mengenai realitas, oleh sebab inti pengetahuan itu adalah kebenaran realitas. Kedua, ahli-ahli psikologi berpendapat bahwa pemaduan kurikulum dapat menghasilkan manusia yang memiliki personality yang terpadu (integral personality) Ketiga, dari suatu sudut pandang sosiologi, diharapkan bahwa melalui kandungan kurikulum yang terpadu itu akan timbul perpaduan di kalangan masyarakat baik secara vertikal ataupun horizontal (Langgulung, 1989: 193-195). Pemaduan kandungan kurikulum tidak harus berarti menggabungkan semua mata pelajaran dalam satu mata pelajaran saja, tetapi pemaduan tidak dapat tidak harus dilihat dari segi tujuan akhir pendidikan (ultimate goal) (Langgulung, 1989: 198) ilmu pengetahuan keberadaannya harus diupayakan dengan pendekatan ilmiah yaitu melalui penelitian empiris dan eksperimentasi.
4. Kurikulum dan Silabus : “pengetahuan abadi” yang diperoleh.
Pengetahuan yang dipelajari yang rentan tehadap pertumbuhan kualitatif dan kuantitatif, begitu pula terhadap multiplikasi, variasi yang terbatas dan persilangan budaya selama tetap konsisten dengan syariah sebagai sumber nilai-nilai, umat islam pada saat itu bertekad pula untuk memperkuat pranata-pranata pendidikan dengan memberantas buta aksara memberantas kebodohan menanamkan kebajikan moral dan mengkonsolidasikan kebudayaannya dan memperkuat solidaritasnya dengan meyakini terus menyebarkan prinsip-prinsip islam dan penyebaran keagungan budayanya keseluruh masyarakat muslim di dunia.
5. Pendidikan dan masyarakat: pendidikan non formal.
Pada Konferensi Pertama tentang pendidikan yang diselenggarakan oleh Universitas King Abdul Aziz di Jeddah/Mekkah pada tahun 1977 bulan Maret – April telah sukses membahas tentang pendidikan formal dan non formal, dwi sistem pendidikan antara orang-orang yang berpikiran sekuler dan kelompok yang berpikiran keagamaan, hubungan antara pendidikan dan masyarakat dan masalah pendidikan wanita serta menggunakan sasaran dan tujuan pendidikan dengan pola ideal disemua cabang pendidikan. Konferensi juga membagi pengetahuan ke dalam dua kategori yaitu pengetahuan yang diterima sebagai wahyu dan pengetahuan yang diperoleh. Pembuatan pola kurikulum yang dibuat pada Konferensi Kedua di Islamabad Pakistan bulan maret 1980 yaitu penekanan di berikan pada reorganisasi pendidikan umum dengan pendekatan islam yang diberikan pada mahasiswa, dan pada Konferensi dunia Ketiga tentang pendidikan islam pada bulan maret 1981 di IIER (Institut Pendidikan dan Riset Islam) di Bangladesh membahas masalah mempersiapkan buku – buku teks yang disediakan oleh pihak berwenang dalam pendidikan kalau mereka ingin melaksanakan sebuah kurikulum ideal. Selanjutnya pada Konferensi Keempat di Jakarta tahun 1982 di prakarsai oleh UII Universitas Islam Indonesia dan universitas King Abdul Aziz dan pusat dunia bagi pendidikan islam, mereka merekomendasikan tentang konseptualisasi dari sudut pandang islam, produksi buku teks dan metodologi pengajaran. Salah satu timbulnya konflik dalam masyarakat islam adalah perbedaan antara sistem tradisional dan modern dan ini hanya bisa bersatu atau di padukan apabila di silabus dan mata pelajaran dan buku teks dibuat berdasarkan konsep islam dan ini telah dilaksanakan oleh institut pendidikan dan riset islam di Bangladesh untuk semua sekolah dasar dan madrasah tradisional. Adapun untuk tingkat menengah dan universitas diperkenalkan pendidikan umum dengan menggunakan pada semua cabang pengetahuan dari sudut pandangan islam. dan para sarjana yang berada di akademi islam di Cambridge telah menulis buku-buku tersebut untuk membantu para guru mengajarkan atau melakukan pendekatan terhadap studi pengajaran ilmu-ilmu alam dan sosial serta humaniora dari sudut pandangan islam.
6. Pendidikan non formal bagi kaum muda.
Pada Konferensi Pertama tentang pendidikan yang diselenggarakan oleh Universitas King Abdul Aziz di Jeddah/Mekkah pada tahun 1977 bulan Maret – April telah sukses membahas tentang pendidikan formal dan non formal, dwi sistem pendidikan antara orang-orang yang berpikiran sekuler dan kelompok yang berpikiran keagamaan, hubungan antara pendidikan dan masyarakat dan masalah pendidikan wanita serta menggunakan sasaran dan tujuan pendidikan dengan pola ideal disemua cabang pendidikan.


I. RECOMMENDATION OF SECOND CONFERENCE ON MUSLIM EDUCATION 1980 IN ISLAMABAD (THE DESIGN OF CURUCULUM MANUFACTURING) = Rekomendasi Kedua Konferensi Umat Islam tentang Pendidikan Di Islamabad Tahun 1980 ( Desain Kurikulum)
A. KLASIFIKASI
Konferensi dunia tentang pendidikan Islam yang dilangsungkan tahun 1977 di Mekkah, tahun 1980 di Islamabad, tahun 1981 di Dhaka, tahun 1982 di Jakarta merumuskan bahwa ilmu itu terbagi kepada dua. Pertama ilmu-ilmu abadi (perennial knowledge) yang berdasarkan kepada wahyu, Al-Qur’an, dan Sunnah. Kedua ilmu-ilmu perolehan (acquired knowledge) termasuk ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kealaman dan aplikasinya (first world conference on Muslim education:4).
Perincian dari kedua macam ilmu tersebut (perennial knowledge dan acquired knowledge) adalah sebagai berikut:
1. Kelompok I : pengetahuan abadi (perennial knowledge).
1. Al-Qur’an
a. Qira’ah, hafalan dan tafsir
b. Sunnah
c. Sejarah hidup Nabi Muhammad, sahabat-sahabat beliau serta pengikut-pengikut mereka mencakup masa awal sejarah Islam
d. Tauhid
e. Ushul Fiqh/Fiqih
f. Bahasa Al-Qur’an
2. Mata pelajaran tambahan
a. Metafisika Islam
b. Perbandingan agama
c. Peradaban Islam
2. Kelompok II : pengetahuan yang diperoleh (acquired knowledge)
1. Imaginatife : Seni islam, Architectur, bahasa, sastra
2. Science intelektual social, filsafat, pendidikan, ekonomi, politik, sejarah, peradaban, geografi, sosiologi, bahasa, antropologi.
3. Ilmu-ilmu kealaman : Matematika, statistika, fisika, kimia, astronomi, ruang angkasa, dan lain-lain.
4. Science terapan.
5. Ilmu-ilmu praktis perdagangan, ilmu administrasi, dan lain-lain (second world conference on Muslim Education:2)
B. RANCANGAN KURIKULUM
1. Tingkat pertama
a. Studi tentang Al-Qur’an
b. Dinayat (studi tentang tauhid dan fiqh)
c. Sejarah, terutama tentang sejarah Islam
d. Cerita-cerita syair-syair yang ditujukan untuk pembentukan akhlak mereka
e. Geografi
f. Matematika
g. Bahasa Arab
h. Ilmu-ilmu kealaman dan dasar-dasar sains
2. Tingkat kedua
a. Studi tentang Al-Qur’an
b. Hadits (sesuai dengan perkembangan jiwa anak)
c. Sejarah Islam
d. Bahasa Arab, Bahasa Nasional dan Satu bahasa Eropa
e. Matematika
f. Bahasa Arab
g. Geografi
h. Sejarah dan Civic
3. Tingkat universitas
Kurikulum pada tingkat ini harus di dasarkan atas tingkat sebelumnya, dengan tiga tujuan :
a. Untuk menanamkan pengertian yang mendalam tentang Islam dan masyarakat islam
b. Untuk menanamkan pengetahuan spesialisasi satu ilmu pengetahuan yang tergolong perennial knowledge dan acquired knowledge
c. Untuk menjamin suatu pertumbuhan yang seimbang bagi pribadi mahasiswa lewat mata pelajaran dari berbagai ilmu yang beraneka ragam. Mata Pelajaran dari pendidikan Islamterdiri dari :
1). Dua mata pelajaran yang bersumber dari perennial knowledge, salah satunya adalah bahasa arab
2). Dua mata pelajaran yang bersumber dari acquired knowledge yang satunya adalah filsafat sains dan pengajaran dalam islam.


II. KESIMPULAN :
Pada Konferensi Pertama tentang pendidikan yang diselenggarakan oleh Universitas King Abdul Aziz di Jeddah/Mekkah pada tahun 1977 bulan Maret – April telah sukses membahas tentang pendidikan formal dan non formal, dwi sistem pendidikan antara orang-orang yang berpikiran sekuler dan kelompok yang berpikiran keagamaan, hubungan antara pendidikan dan masyarakat dan masalah pendidikan wanita serta menggunakan sasaran dan tujuan pendidikan dengan pola ideal disemua cabang pendidikan. Konferensi juga membagi pengetahuan ke dalam dua kategori yaitu pengetahuan yang diterima sebagai wahyu dan pengetahuan yang diperoleh. Pembuatan pola kurikulum yang dibuat pada Konferensi Kedua di Islamabad Pakistan bulan maret 1980 yaitu penekanan di berikan pada reorganisasi pendidikan umum dengan pendekatan islam yang diberikan pada mahasiswa, dan pada Konferensi dunia Ketiga tentang pendidikan islam pada bulan maret 1981 di IIER (Institut Pendidikan dan Riset Islam) di Bangladesh membahas masalah mempersiapkan buku – buku teks yang disediakan oleh pihak berwenang dalam pendidikan kalau mereka ingin melaksanakan sebuah kurikulum ideal. Selanjutnya pada Konferensi Keempat di Jakarta tahun 1982 di prakarsai oleh UII Universitas Islam Indonesia dan universitas King Abdul Aziz dan pusat dunia bagi pendidikan islam, mereka merekomendasikan tentang konseptualisasi dari sudut pandang islam, produksi buku teks dan metodologi pengajaran.
Salah satu timbulnya konflik dalam masyarakat islam adalah perbedaan antara sistem tradisional dan modern dan ini hanya bisa bersatu atau di padukan apabila di silabus dan mata pelajaran dan buku teks dibuat berdasarkan konsep islam dan ini telah dilaksanakan oleh institut pendidikan dan riset islam di Bangladesh untuk semua sekolah dasar dan madrasah tradisional. Adapun untuk tingkat menengah dan universitas diperkenalkan pendidikan umum dengan menggunakan pada semua cabang pengetahuan dari sudut pandangan islam. dan para sarjana yang berada di akademi islam di Cambridge telah menulis buku-buku tersebut untuk membantu para guru mengajarkan atau melakukan pendekatan terhadap studi pengajaran ilmu-ilmu alam dan sosial serta humaniora dari sudut pandangan islam.
Untuk itu kita harus selalu mengahargai bagaimana para filosof telah banyak menyumbangkan berbagai karya ilmiyahnya demi perkembangan pendidikan islam sekarang dan masa yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA


http://idrusali85.wordpress.com/2008/02/18/tradisi-ilmu-ke-peradaban-islam, Megaproyek Islamisasi Peradaban Syed Naquib Al-Attas, Monday, March 16, 2009 at 10:32am, Republika Jumat, 26 September 2003

http://diandhra.blog.friendster.com/2007/05, Membangun di Jogja, Archive for May, 2007.
Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam, Bandung: Citapustaka Media, 2004, Cetakan Pertama.
http://taufik-luthfi.blogspot.com, Konsep-konsep pendidikan Islam, Resume dan Analisi Buku Karya Dr. Ali Ashraf (Horison Baru Pendidikan Islam), Senn, 24 November 2008.
http://pengajarbahasa.blogspot.com/2009/08/bab-iii-konsep-dasar-kurikulum.html, Konsep dasar Kurikulum.
http://kangtl.wordpress.com/2008/12/06/pendidikan-islam-drali-ashraf.

Konsep – Konsep Pendidikan Islam, Resume dan Analisi Buku, Karya Dr. Ali Ashraf (Horison Baru Pendidikan Islam).