Friday, August 19, 2011

Presiden: Pendekatan Ilmu dan Iman Dapat Memberi Solusi bagi Permasalahan Global

Jakarta (Pinmas)--Dengan menggunakan pendekatan ilmu dan iman, bersamaan dengan hati dan pikiran, Indonesia bisa menghadapi berbagai tantangan kompleks yang saat ini tengah dihadapi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan hal ini pada bagian lain sambutannya dalam peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, Jumat (19/8) malam.

Terkait hal itu, Presiden SBY mengambil contoh 2 hal. Pertama, mengapa Indonesia dan dunia menghadapi ancaman pangan dan energi. Menurut Presiden, jawabannya tiada lain karena manusia mengkonsumsi lebih dari yang diperlukan. "Selama yang kita konsumsi berlebihan, maka bayangan krisis akan terus menghantui kita," ujar SBY. "Tentu ini bertentangan dengan Islam karena kalau kita boros, ceroboh, maka kita menyia-nyiakan alam yang diberikan Allah SWT," SBY menambahkan.

Adapun solusinya, lanjut Kepala Negara, bisa ditempuh melalui pendekatan keimanan dan keilmuan. Dari sisi keimanan, manusia harus belajar hemat, mengkonsumsi sebatas yang diperlukan dan itu berarti umat Islam sedunia harus mengubah gaya hidupnya menjadi bangsa yang hemat, tidak boros, dan tidak serakah. Dari sisi keilmuan, aplikasi iptek diperlukan kreativitas, inovasi, dan intervensi teknologi. "Di sini relevan mengapa kita harus membaca, belajar iptek sebagaimana yang diajarkan Islam," SBY menjelaskan.

Masalah lainnya, misalnya, menyangkut fenomena alam. Ada yang memang murni peristiwa alam, seperti tsunami dan letusan merapi. Ada pula akibat kesalahan dan kelalaian manusia, misalnya banjir dan longsor akibat penggundulan hutan dan iklim yang berubah karena pemanasan global. "Dipercayai bahwa peristiwa alam yang murni itu semata-mata untuk menjaga stabilitas bumi kita. Tanpa ada peristiwa alam itu maka akan mengganggu kontinuitas dari bumi, di sinilah tangan Yang Maha Kuasa itu turun," ujar Presiden.

Selain itu, Kepala Negara juga berharap, dengan dimensi keimanan dan keilmuan jangan kita kaitkan bencana alam dengan tahayul dan mistik karena makin menjauh kita dari akidah dan keimanan sebagai umat beragama. "Dalam konteks keilmuan, Indonesia adalah rawan gempa dan gunung api, kita harus siap dan siaga. Itulah sikap mental yang harus kita bangun," kata SBY.

Di akhir sambutannya, Presiden mengajak kaum muslimin dan seluruh rakyat Indonesia dan dunia untuk terus membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik berdasarkan iman dan ilmu. "Mari dengan iman, ilmu, dan amal terus kita bangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Kembangkan keilmuan untuk menjadi bangsa yang cerdas, berpengetahuan, dan rasional," Presiden menekankan. "Bagi bangsa dunia, khususnya Islam, mari terus aktif dan berkontribusi bagi terwujudnya dunia yang makin adil, sejahtera, dan memiliki peradaban yang maju, agung dan mulia," SBY menambahkan
http://kemenag.go.id/index.php?a=detilberita&id=7638