Thursday, April 5, 2012

0 comments
Sebuah Tinjauan Pemikiran Terhadap Madrasah Aliyah Negeri (CASE STUDY : Sumatera Utara)

Oleh : Toto Pardamean

Secara garis Besar kita bisa meyakini bahwa niat pendirian Madrasah Aliyah sebagai Sekolah setingkat SMA adalah baik karena bercita-cita menyeimbangkan pendidikan umum dengan pendidikan agama. Hal ini tergambar dari jenis mata pelajaran yang ada di Madrasah Aliyah saat awal berdirinya hingga sekarang ini.

Namun jika disimak dari sudut keseimbangan beban belajar dengan batas kemampuan otak remaja yang menjadi siswanya akan menimbulkan keraguan terhadap kemungkinan akan tercapainya tujuan pendidikan di Madrasah Aliyah itu sendiri. Bayangkan sejumlah Mata Pelajaran yang ada di SMA seluruhnya diberikan di MA ditambah Mata Pelajaran Agama yang persentasenya juga sama baik dari segi jumlah.jenis dan bobot mata pelajarannya. Bisa pula dibayangkan bagaimana beratnya beban belajar yang dipikul oleh siswa SMA saat ini dan bagaimana pula lebih beratnya beban belajar siswa MA yang dua kali lipat itu.

Sudah menjadi rahasia bersama jika dari sejumlah mata pelajaran yang ada di SMA saat ini hanya beberapa saja yang dapat dikuasai siswa, lalu bagaimana dengan siswa MA ?. Artinya bisa diyakini siswa MA akan dihadapkan pada dilema menentukan sikap dengan pilihan yang sulit yakni ; menguasai mata pelajaran umum atau mata pelajaran agama sehingga jadilan siswa-siswa MA tersebut menjadi tiga kelompok yaitu : yang menguasai mata pelajaran agama, menguasai mata pelajaran umum atau tidak menguasai kedua-duanya. Selama 16 tahun mengajar di MA hal inilah yang saya lihat sekaligus memiriskan pemikiran terhadap nasib anak-anak tersebut ketika dihadapkan dengan perkembangan tuntutan jaman yang semakin mengarah pada soal-soal profesional.

Penulis beranggapan bahwa kurikulum MA tersebut tidak disusun secara matang berdasarkan Tujuan yang jelas , sasaran dan target yang secara logika dapat tercapai. MA tidak memiliki identitas yang tegas dalam membedakannya dengan sekolah-sekolah setingkat/sederajat dengannya. MA tidak bisa dikelompokkan sebagai sekolah rumpun agama tetapi tidak juga bisa dikelompokkan sekolah rumpun umum. Belum lagi ditilik dari kemungkinan pencapai tujuan pembelajaran berdasarkan alokasi waktu belajar dengan jumlah dan bobot sekian banyak mata pelajarannya. Demikian juga persoalan adanya beberapa mata pelajaran yang saling tumpang tindih bahkan lebih parah jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang ada di SMA. Dua persoalan tumpang tindih mata pelajaran itu terjadi pada Mata pelajaran Umum dan Mata pelajaran Agama. Persoalan tumpang tindihnya beberapa mata pelajaran yang juga terjadi di SMA itu bertambah parah ketika kebijaksanaan penambahan Mata Pelajaran Muatan Lokal diagendakan dalam kurikulum sekolah-sekolah tersebut. Apalagi dibeberapa MA mata pelajaran tambahan yang disebut Muatan Lokal itu salah diterjemahkan sehingga penerapannya justru menjadi tumpang tindih dengan beberapa mata pelajaran lainnya sehingga justru membebani siswa baik dari sudut waktu,dan konsentrasi belajar.
Sebagai contoh di MA tersebut terdapat Mata Pelajaran Al Qur’an dan Hadits lalu Muatan Lokalnya Qiro’at yang mana dikeduanya sama-sama berkeinginan menguasai pembacaan Al Qur’an dan terjemahannya. Pertanyaannya adalah mengapa dalam Mata pelajaran Al Qur;an dan Hadits itu tidak diyakini anak akan berhasil menguasai membaca dan mengartikan Al Qur;an ? Lalu bagaimana Qiro’at yang sama-sama bertujuan untuk memahami Al Qur;an itu bisa dikelompokkan sebagai Muatan Lokal ? Sampai disini masalahnya Muatan Lokal itu menjadi kabur pengertian dan pemaknaannya. Alasan yang sangat tidak masuk akal adalah dikatakan banyak siswa-siswa MA yang belum mampu membaca Al Qur’an. Demikian juga masalah mata pelajaran Piqih dan Aqidah Akhlaq, mengapa tidak pernah dipikirkan bahwa Ilmu Piqih bisa diposisikan sebagai Keilmuan secara teoritis sementara Aqidah Akhlaq diposisikan sebagai terapan dari Piqih (sebagai landasan teoritis) dalam satu format saja.

Dalam persoalan ini yang paling penting adalah bagaimana kurikulum tersebut bisa diformulasikan sedemikan rupa dengan pertimbangan alokasi waktu, beban belajar, daya (ketahanan) berpikir anak (sesuai dengan tingkat usia dan perkembangan intelektualnya), target,sasaran dan tujuan yang hendak dicapai dari penyelenggaraan pendidikan tersebut sehingga pendidikan tidak berubah fungsi menjadi penjara waktu dan kesempatan perkembangan jiwa anak. Akibatnya tentu saja sekolah menjadi sangat tidak menyenangkan, melelahkan dan sia-sia.
Hal yang dikemukan diatas baru satu sisi saja dari kelemahan MA sebagai penyelenggara pendidikan dasar. Masih banyak lagi sisi-sisi kelemahannya, misalnya betapa tidak kreatifnya MA (sebagian besar) dalam merancang ekstrakurikulernya sehingga memiliki nilai tambah dan bersifat aplikatif agar bermanfaat membantu bekal siswanya dalam memasuki dunia kerja dan dunia pendidikan lanjutan. Kegiatan yang diselenggarakan kebanyakan memang tidak fokus dan cenderung sekedar ada sebagai daya tarik yang semu agar anak-anak masyarakat tertarik untuk bersekolah di MA tersebut.

Untuk memperkuat asumsi tersebut kita perlu menjawab secara jujur berapa persentase siswa yang menonjol dibidang agama dan berapa persentase siswa yang menguasai ilmu umum. Itu artinya kurikulumnya memang tidak fokus. Kemampuan Kepala MA dalam Manajerial pendidikan yang sangat rendahpun turut berpengaruh atas kelemahan-kelemahan yang dimaksudkan diatas. Salah satu contoh adalah tentang prinsip dasar penyusunan jadwal mata pelajaran yang seharusnya mempertimbangkan tingkat kesulitan rata-rata anak terhadap mata pelajaran tertentu dengan penetapan waktu belajar (jam pelajaran). Masih banyak yang menerapkan asas permintaan guru, faktor-faktor non teknis lainnya sehingga tidak jarang mata pelajaran yang rata-rata sulit bagi anak justru terjadwal siang hari setelah daya berpikir anak sudah menurun, tak jarang juga mata pelajaran olah raga terjadwal siang hari saat matahari bersinar terik. Ketidak taatan asas pendidikan seperti ini sangat tidak mendukung keberhasilan pendidikan terutama di MA yang sangat padat mata pelajarannya itu.
Patut dicatat dan diingat bahwa Sekolah mempunyai tanggungjawab terhadap keberhasilan anak didiknya, tidak boleh ada pendapat yang mengatakan bahwa sekolah hanya sebagai penyelenggara atau fasilitator. Sekolah Modern harus berani mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan terhadap anak-anak bangsa yang dititipkan kepada sekolah. Penanggungjawabnya mulai dari Kepala Sekolah, Guru dan seluruh pegawai yang ada dan terlibat didalamnya. Jadi tidak jamannya lagi anak menjadi pihak yang selalu dipersalahkan dengan alasan-alasan klasik seperti anak yang tak mau belajar dsb. Kalau itu alasannya maka segenap pihak yang terlibat di sekolah harus mencari tahu mengapa anak tak mau belajar dan mencari jalan bagaimana anak tersebut mau belajar. Tidak mau belajar berarti sekolah itu tidak menyenangkan dan tidak memberi keyakinan diri sang anak terhadap kebermanfaatan belajarnya.

MA dengan sejumlah sisi kelemahannya diatas jika dipadatkan akan memberi kesimpulan bahwa kelemahan MA tersebut tertumpu pada Manajemen yang meliputi kurikulum dan penerapan kurikulum itu sendiri. Manajemen Kurikulum menyangkut mulai planning hingga evaluating, manajemen penerapan kurikulum itu sendiri menyangkut teknis dan approach serta hubungan antara guru/kepala sekolah dengan murid yang tentu saja akan bermuara pada soal-soal motivasi dan apresiasi.

Hal-hal inilah yang perlu diperhatikan jika MA ini mau menjadi Lembaga Pendidikan dasar yang bersifat alternatif (pilihan terakhir), jika tidak ia akan ditinggalkan. Jika mau maju sejajar bahkan lebih dari Sekolah-sekolah lainnya maka ada banyak hal-hal yang perlu ditingkat yang bersifat inovatif dan kreatif.

sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/26/sebuah-tinjauan-pemikiran-terhadap-madrasah-aliyah-negeri-case-study-sumatera-utara/
Sumber : http://pendis.kemenag.go.id/kerangka/madr.htm

0 comments: