Monday, November 19, 2012

Menag: Bangun Umat Berkarakter dengan Mental dan Perilaku Hijrah

0 comments
Kamis, 15 November 2012
Foto
Jakarta (Pinmas) —Menteri Agama H Suryadharma Ali mengatakan, untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik, berkarakter dan bermartabat, diperlukan mental dan perilaku hijrah dari setiap warga bangsa. Islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia perlu memaknai hijrah sebagai momentum perubahan diri dan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.
“Untuk itu, elemen bangsa, para alim ulama dan tokoh masyarakat dapat berperan aktif membangun kualitas umat dengan pijakan yang kokoh dan benar agar tercipta bangsa dan Negara yang maju,” papar Menag saat memberi sambutan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1434 H di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (15/11).
Acara itu juga dihadiri Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Abdul Djamil, Irjen Kemenag M Jasin, para duta besar negara Islam seperti Yaman, Qatar dan lainnya. Sedangkan hikmah 1 Muharram 1434 H disampaikan pimpinan Pondok Pesantren Asshidiqiyah KH Nur Iskandar, SQ. Zikir dan salawat 1 Muharam 1434 Habib Munzir bin Fuad Al Musawa.
Menurut Menag, dalam konteks kekinian, hijrah yang berarti pindah tempat atau meninggalkan tempat menuju tempat lain seperti yang terjadi pada masa Rasulullah SAW tidak relevan lagi dilakukan. Maka, makna hijrah di masa kini adalah hijrah mental, dan perilaku untuk membangun kondisi yang lebih baik.
“Hijrah dari perilaku yang kurang baik ke perilaku yang lebih baik, dari perilaku yang hanya mementingkan diri sendiri kepada perilaku yang peduli terhadap orang lain, dari perilaku kehidupan bebas nilai kepada kehidupan yang terikat dengan nilai-nilai agama dan akhlakul karimah. Di samping itu, hijrah juga dapat dimaknai berpindah dari kondisi hidup yang kurang baik kepada kondisi hidup yang lebih layak dan sejahtera,” papar Menag. Menag mengajak umat Islam untuk merenungkan hijrah Rasulullah yang telah membawa umat Islam yang ketika masih berada di Makkah selama 13 tahun dan selalu diperangi oleh kaum kafir Quraish dalam keadaan tidak memiliki kekuatan apa-apa, menjadi umat yang kuat dan mulia.
Umat Islam, lanjut Menag, mampu membangun perekonomian yang baik, membangun persaudaraan yang baik antara kaum Muhajirin (mereka yang hijrah dari Makkah) dengan kaum Anshor (penolong dari kota Madinah) dalam tempo yang sangat singkat yaitu kurang dari 10 tahun. “Madinah pun kemudian dikenal sebagai sebuah negeri yang aman dan makmur, karena umat Islam dapat berniaga dengan siapa pun, dan orang-orang non muslim hidup aman di Madinah dalam suasana yang rukun dan damai di bawah naungan keadilan Islam.”
Peristiwa hijrah yang dialami oleh Rasulullah SAW, kata Menag, merupakan tonggak sejarah kemenangan Islam. “Terbukti setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW dapat membangun masyarakat Islam dan menegakkan sendi-sendi keislaman dalam berbagai kehidupan.”
Menag mengutip firman Allah surat at-Taubah ayat 20: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”
Dari peristiwa tersebut, lanjut Menag, Sayyidina Umar dan para sahabat yang lain bersepakat bahwa peristiwa hijrah itu diabadikan menjadi awal perhitungan Tahun Islam. (dik)

0 comments: